Ancaman Kekerasan Sayap Kanan Membayangi AS Di Bawah Pemerintahan Biden

Pendukung Trump berunjuk rasa di dekat Virginia Capitol di Richmond sebelum pelantikan Joe Biden/Net

Serangan di Capitol Hill di awal Januari menunjukkan bahwa Amerika Serikat dalam kondsi yang tidak aman. Meskipun pelantikan Joe Biden berjalan lancar, namun orang-orang yang menolak kekalahan Trump serta kekerasan sayap kanan tetap akan menjadi ancaman.

Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) pada Rabu (27/1) mengeluarkan buletin yang memperingatkan bahwa ancaman dari ekstremis sayap kanan akan bertahan dalam beberapa minggu setelah suksesnya Pelantikan Presiden Joe Biden. Para ekstremis dikatakan akan menjadi lebih berani dari penyerbuan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS, yang menargetkan pejabat terpilih dan fasilitas pemerintah.

Ini menjadi peringatan bagi negara yang selama ini dianggap sebagai model demokrasi terbaik. AS harus mulai memperhitungkan bisa saja terjadi gelombang kekerasan politik di tengah pemerintahan Biden.

"Informasi menunjukkan, beberapa ekstremis kekerasan yang bermotivasi ideologis, yang keberatan dengan otoritas pemerintah dan transisi presiden, serta dipicu oleh narasi palsu, dapat memobilisasi hasutan untuk melakukan kekerasan," ujar pernyataan departemen itu, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (28/1).

Penasihat DHS mengatakan gerakan ekstremis itu juga dimotivasi oleh masalah-masalah termasuk kemarahan atas pembatasan Covid-19, hasil pemilu 2020, dan penggunaan kekuatan polisi terhadap aksi unjuk rasa.

Ketegangan ras dan etnis yang berkepanjangan, termasuk penentangan terhadap imigrasi, juga menjadi  pendorong serangan kekerasan di dalam negeri.

DHS biasanya menerbitkan hanya satu atau dua buletin peringatan dalam satu tahun. Buletin tersebut sebagian besar memperingatkan ancaman dari kelompok teroris asing. Yang terakhir, dikeluarkan oleh pemerintahan Trump pada Januari 2020, menyatakan Iran sebagai sponsor terorisme negara dan menunjuk Korps Pengawal Revolusi Iran sebagai organisasi teroris asing.

Agen federal telah memperingatkan bahwa lonjakan kekerasan sayap kanan terjadi sejak 2009. Namun, pengaruh buruk Trump meningkatkan ancaman tersebut.

Trump telah menguatkan narasi palsu bahwa kekalahannya dalam pemilihan presiden pada November 2020 adalah hasil kecurangan. Dia mendesak ribuan pengikutnya untuk 'melawan' kecurangan itu dan mendorong aksi penyerangan di Capitol Hill.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021
Video

RMOL World View • Diplomasi Halal Saat Pandemi

Senin, 08 Maret 2021

Artikel Lainnya

Enggan Mundur Usai Terjerat Kasus Pelecehan Seksual, Gubernur Andrew Cuomo Terancam Dimakzulkan
Dunia

Enggan Mundur Usai Terjerat ..

09 Maret 2021 11:48
AS Buka Lagi Pengajuan Aplikasi Visa Dari 13 Negara Muslim Dan Afrika
Dunia

AS Buka Lagi Pengajuan Aplik..

09 Maret 2021 10:52
Tolak Gagasan Paspor Vaksin, WHO: Akan Menimbulkan Ketidakadilan Dalam Sistem
Dunia

Tolak Gagasan Paspor Vaksin,..

09 Maret 2021 10:34
Wawancara Harry Dan Meghan Penuh Kontroversi, Istana Buckingham Diam Seribu Bahasa
Dunia

Wawancara Harry Dan Meghan P..

09 Maret 2021 10:21
Ledakan Di Jembatan Al Aimmah Irak, Seorang Perempuan Tewas
Dunia

Ledakan Di Jembatan Al Aimma..

09 Maret 2021 09:46
Buat Cuitan Misoginis Saat Hari Perempuan Internasional, Burger King Diserang Warga Net
Dunia

Buat Cuitan Misoginis Saat H..

09 Maret 2021 09:32
Belajar Dari RRD Korea, Kesehatan Masyarakat Yang Gratis Tanpa Diskriminasi
Dunia

Belajar Dari RRD Korea, Kese..

09 Maret 2021 08:56
Aparat Blokir Jalan, Ratusan Pengunjuk Rasa Myanmar Terperangkap
Dunia

Aparat Blokir Jalan, Ratusan..

09 Maret 2021 08:05