Dubes RI Untuk Kolombia: Penghargaan Adalah Sebuah Pengakuan Dari Masyarakat Yang Perlu Diapresiasi

Dubes Priyo Iswanto saat menerima penganugerahan kehormatan doctor honoris causa/Ist

Meraih penghargaan bukanlah sesuatu yang baru bagi Priyo Iswanto. Terhitung sudah 6 penghargaan yang ia terima selama menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kolombia. Namun begitu, ketika ia menerima penghargaannya yang ke-7, ia tetap merasa sangat surprise. Terlebih, ini adalah penghargaan gelar kehormatan doctor honoris causa.

"Saya tidak pernah bermimpi mendapatkan gelar kehormatan doctor honoris causa, mungkin ini cara Tuhan memberi imbalan kepada saya sebagai buah dari kerja yang tulus dan selalu menunjukkan yang terbaik yang bisa saya lakukan," ungkapnya dalam wawancara lewat email dengan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (6/2).  

Ia mengatakan bahwa penghargaan gelar kehormatan doctor honoris causa bidang Ilmu Sosial dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sangat istimewa karena beberapa hal. Antara lain, merupakan pengakuan dari masyarakat termasuk masyarakat kampus terhadap capaian dan kinerjanya dalam meningkatkan kerja sama antara Indonesia dan Kolombia, dan diberikan secara selektif kepada individu tertentu, yang tentu saja tidak mudah untuk mendapatkannya.

"Saya merupakan orang ke-3 yang memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan juga tidak semua universitas meskipun universitas negeri bisa memberikan penghargaan semacam itu karena hanya perguruan tinggi dengan akreditasi A yang dapat memberikan penghargaan tersebut," ujar Priyo dengan nada bahagia.

Menyenangi pekerjaan sebagai sesuatu yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tulus, dan memberikan yang terbaik, adalah hal yang selalu ia junjung.

Sosok yang pernah menjabat sebagai Asisten Deputi Kerja Sama Amerika dan Eropa di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2014-2017) ini kemudian menguraikan perjalanannya sampai bisa meraih gelar kehormatan itu.

"Gagasan mendapatkan gelar kehormatan berasal dari teman saya, mantan Duta Besar Kolombia untuk Indonesia, Juan Alfredo Pinto, yang saya ajak membantu menulis buku 40 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Kolombia, September 2020," kisah Priyo.

"Usai pertemuan mempersiapkan naskah buku, yang bersangkutan iseng melempar ide 'embajador, vamos a conseguir doctorado de honoris causa, me lo busca de Indonesia y te lo busco de la universidad colombiana,'  yang maksudnya; Pak Dubes, mari kita cari doktor honoris causa. Carikan saya dari Indonesia dan kau saya carikan dari universitas di Kolombia," ujarnya seraya tertawa.

Gagasan serupa juga dilontarkan oleh seorang teman, dokter ortopedi dan kepala sebuah rumah sakit di Bogota, Prof. Dr. Jorge Ramirez Leon, yang mengatakan dalam sebuah seminar virtual di Akademi Nasional Kedokteran Kolombia  -wadah para dokter memberikan pemikiran dan saran di bidang kesehatan kepada Pemerintah- meminta kepada Pimpinan Akademi tersebut agar memberikan gelar doctor honoris causa kepadanya.  

"Karena saya sebagai satu-satunya duta besar asing yang aktif ikut dalam seminar-seminar tentang kesehatan masyarakat di Kolombia," terang Priyo.

Celetukan oleh teman Kolombia itu akhirnya terwujud. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Fauzan Mpd, menelponnya, mempertimbangkan kontribusi dan kinerja nyata yang ia lakukan selama ini, dan menawarkan bahwa UMM bermaksud akan memberikan gelar doctor honoris causa di bidang ilmu sosial, seraya bertanya apakah ia bersedia menerimanya.

"Tawaran tersebut langsung saya iyakan dengan senang hati, namanya juga diberikan kehormatan oleh orang lain. Kenapa yang diberikan adalah ilmu sosial, karena di UMM memiliki Program Studi doktoral bidang ilmu sosial yang relevan dengan profesi saya, kalau bidang ilmu agama atau ilmu pertanian tentunya kurang pas." jelas pria kelahiran Kudus, 10 Mei 1962 yang memulai karirya di Direktorat Jenderal Penerangan Kemenlu sebagai staf (1987-1989) dan Wakil Direktur (1997-1999).

Sebelumnya via telepon, Priyo menjelaskan bahwa kerjasama Indonesia dan Kolombia meningkat tajam sejak tahun 2017 di berbagai bidang. Citra Indonesia juga sangat tinggi di depan publik Kolombia, sebagai salah satu negara Asia yang sedang tumbuh dan diperhitungkan di kawasan dan internasional.

"Pimpinan Kemenlu juga mengakui hubungan dan kerjasama kedua negara berada pada tingkat tertinggi selama 40 tahun," jelasnya.

Upacara penganugerahan gelar doctor honoris causa berlangsung di DOME UMM, Sabtu (30/1). Secara Khusus Priyo terbang dari Kolombia ke Malang. Pada saat penganugerahan, Priyo menyampaikan orasi ilmiahnya  tentang tiga bidang ilmu pada program doktoral yaitu sosial, pertanian, dan agama Islam.

"Saya mengangkat isu kelapa sawit yang dikaitkan dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) karena pada isu ini, atas prakarsa sendiri, saya berhasil menginisiasi Kolombia masuk menjadi anggota Dewan Negara-negara Penghasil Kelapa Sawit (CPOPC) yang saat itu organisasi ini baru berusia kurang dari dua tahun dan masih fokus pada urusan internal," jelas Priyo.

Pada Desember 2020 lalu, Priyo menggandeng UMM untuk menjalin kerjasama dengan universitas EAFIT, salah satu universitas swasta terkemuka di Kolombia yang berkedudukan di Medellin, dan menjadikan kerja sama ini yang kedua, antara dua universitas di Indonesia dan Kolombia.

"Saya juga pernah memberikan orasi di depan wisudawan UMM dalam rangka memotivasi wisudawan agar generasi muda lulusan UMM tetap optimistis menatap masa depan, berwawasan global dan cerdas memanfaatkan peluang," ujarnya.  

Ini merupakan pengalaman tak ternilai yang ingin ia bagikan kepada generasi muda.

Menurutnya, penghargaan adalah sebuah pengakuan oleh masyarakat yang perlu diapresiasi.

"Syukur penghargaan ini ikut memotivasi adik-adik kita untuk berbuat lebih baik guna mencapai yang terbaik," ujarnya.

Acara penganugerahan dihadiri oleh Menko PMK, Menteri dan Wakil Menteri Luar Negeri, sejumlah anggota DPR RI, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Majelis Dikti-Litbang PP Muhammadiyah, Duta Besar Kolombia di Jakarta, Duta besar negara sahabat di Jakarta dan Duta Besar Republik Indonesia di berbagai negara, serta pejabat tinggi Kemenlu, dan banyak lagi, baik secara luring maupun daring.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • Reshuffle Kabinet

Selasa, 13 April 2021
Video

Jendela Usaha • Laris Manis Saat Ramadhan Dengan Olahan Kolang Kaling

Rabu, 14 April 2021
Video

RMOL WORLD VIEW • Apa Kabar Asia Timur?

Rabu, 14 April 2021

Artikel Lainnya

Sambut Delegasi AS, Tsai Ing-wen Beberkan Komitmen Taiwan Jaga Perdamaian Indo-Pasifik
Dunia

Sambut Delegasi AS, Tsai Ing..

15 April 2021 12:12
Komentar Pedas Erdogan Untuk PM Italia Yang Menyebutnya Diktator
Dunia

Komentar Pedas Erdogan Untuk..

15 April 2021 11:52
Perseteruan Rusia-Ukraina: Kapal Perang AS Mundur Dari Laut Hitam
Dunia

Perseteruan Rusia-Ukraina: K..

15 April 2021 11:20
Peringatan China Untuk Barat: Jangan Jadikan Hong Kong Sebagai Pion
Dunia

Peringatan China Untuk Barat..

15 April 2021 11:16
Kontroversi Penyebab Kematian George Floyd, Kehabisan Oksigen Hingga Penyakit  Jantung
Dunia

Kontroversi Penyebab Kematia..

15 April 2021 10:49
Perkuat Sistem Pertahanan Udara, Turki Punya Teknologi Rudal Udara-Ke-Udara Bozdogan
Dunia

Perkuat Sistem Pertahanan Ud..

15 April 2021 10:48
Pasang Badan, AS Akan Bantu Pertahanan Ukraina Lawan Rusia
Dunia

Pasang Badan, AS Akan Bantu ..

15 April 2021 10:23
Dukung Kompetisi Sepak Bola Copa America 2021, Sinovac Sepakat Kirim 50.000 Dosis Vaksin Covid-19
Dunia

Dukung Kompetisi Sepak Bola ..

15 April 2021 10:21