Pengamat: Cuitan Rihanna Tentang Aksi Petani, Dua Hal Penting Di Tengah Pembusukan Sosial India

Massa India menolak pihak asing dan selebriti ikut campur dalam urusan aksi petani India/Net

  Serangan sayap kanan India terhadap penyanyi papan atas Rihanna, pasca cuitannya yang mendukung aksi protes petani, menunjukkan bagaimana para politikus yang berkuasa telah memicu kerusuhan di dalam masyarakatnya sendiri.

Aksi protes petani di India yang berlarut-larut selama beberapa minggu terus meluas dan menjadi berita internasinal. Mendorong pengamat dan selebritis dunia melemparkan kritiknya di media sosial. Namun, sayap kanan tak kalah cekatan. Mereka balas mengeluarkan serangan troll di internet kepada siapa saja yang mendukung aksi protes itu, termasuk kepada penyanyi Rihanna. 

Beberapa hari lalu, penyanyi Rihanna berkicau di akun Twitter. Bintang populer dengan lebih dari 100 juta pengikut itu menjadi selebritis pertama yang memberikan dukungan kepada gerakan petani yang sedang berlangsung di India.

“Mengapa kita tidak membicarakan hal ini?! #FarmersProtest,” tweet Rihanna sambil menautkan sebuah artikel CNN tentang penutupan internet di daerah perbatasan yang dekat dengan lokasi aksi protes.

Kicauan itu menjadi santapan netizen. Ada yang bersimpati tetapi lebih banyak yang memintanya jangan ikut campur. Sayap kanan ikut bereaksi keras.

Alih-alih menentramkan, dukungan Rihanna dianggap memicu perpecahan di dalam masyarakat India sendiri. Orang-orang di barisan PM Narendra Modi menyerukan dengan keras bahwa cuitan selebritis itu sangat tidak patut karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.  

Media sosial pun bertambah gaduh..

"Realitas mengungkap bagaimana politik ekstrem kanan di India. Mereka didominasi oleh kebangkitan agresif, kekuatan etnis-nasionalis Hindu,  mengendalikan narasi di domain publik," ungkap Ambreen Agha, pengamat dunia Islam dan gender.
Ia menulis, dalam hitungan tiga jam setelah Rihanna memposting di Twitter, 'anak-anak tengah malam' dari India postmodern yang independen, bereaksi terhadap tweet-nya. Sejauh ini 'anak-anak tengah malam' itu berperan penting dalam mengubah negara dari pemerintahan demokrasi-liberal menjadi negara yang menghasilkan bentuk-bentuk agama dari legitimasi politik dan otoriterisme.

"Mereka bereaksi dengan keras dengan komentar-komentar yang keji, menunjukkan ketakutan pada dua hal yang saling terkait dari pasukan sayap kanan, yaitu ketakutan mendalam akan kehilangan kekuasaan dan kompleks inferioritas yang melekat pada politik konservatif," ujar Agha, sebagaimana dikutip dari TRT.

Sekalipun Rihanna seorang wanita tetapi serangan yang ditujukan kepadanya begitu brutal dan bisa disebut sebagai 'kejahatan'.

"Keburukan ini ditunjukkan dalam tweet penuh dengki yang mengejek Rihanna karena hubungannya yang buruk dengan Chris Brown," ujar Agha, menambahkan, tweet Rihanna memberi dimensi global pada masalah yang sedang terjadi. Namun, sayap kanan Hindu yang fanatik tidak melewatkan kesempatan untuk  mengekspor maskulinitas mereka yang beracun, ditambah lagi dengan rasisme.

Selain Rihanna, ada Greta Thunberg, aktivis lingkungan hidup yang mendukung agitasi dengan memperluas solidaritas kepada para pengunjuk rasa. Thunberg telah berbagi 'perangkat' protes tentang petani yang kontroversial yang membuat polisi Delhi mengajukan tuntutan di bawah UU India, tentang 'konspirasi kriminal'.

Sama seperti Rihanna, Thunberg tidak gentar. Terlepas dari taktik intimidasi oleh polisi Delhi, Thunberg mengatakan bahwa dia terus mendukung para petani di India.

"Negara menunjukkan kekejamannya dengan penangkapan yang melanggar hukum, dan mengubah kota menjadi benteng dengan kabel berduri, jalan yang dipaku, dan barikade beton. Semua ini untuk membungkam para petani yang memprotes dan sekutunya," tegas Agra.

Insiden ini mengungkapkan tanda-tanda pembusukan sosial, menurut Agra, juga menandakan penurunan peradaban. Sementara tweet Rihana sendiri mendapat tanggapan positif di negaranya.

Menurut Agra, Rihanna telah melakukan dua hal penting. Pertama, ini membuka kembali luka masyarakat yang terpecah secara brutal - di mana media, industri film, dan pemain kriket - saling berperang ide satu sama lain, sementara kelas politik yang berkuasa terus memicu kebencian dan kekerasan.

"Kedua, ia memaksa orang-orang di sisi lain dari perpecahan politik untuk memikirkan kembali 'kolonial' di negara pascakolonial, institusi, dan hukum, dan menata kembali masa depan politik di mana momen dalam sejarah ini menjadi titik lemah bagi dispensasi politik saat ini," tutup Agra. 
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

Presiden Ghana: Disuntik Vaksin Tidak Akan Mengubah DNA Anda Atau Menyebabkan Kemandulan
Dunia

Presiden Ghana: Disuntik Vak..

02 Maret 2021 18:08
Bantu Bos Nissan Kabur, Dua Warga AS Tiba Di Jepang Untuk Diadili
Dunia

Bantu Bos Nissan Kabur, Dua ..

02 Maret 2021 17:34
Gara-gara Nanas, Perang Kata  Taiwan-China Makin Memanas
Dunia

Gara-gara Nanas, Perang Kata..

02 Maret 2021 17:17
IAEA Temukan Berbagai Bukti Pembangunan Nuklir Korea Utara
Dunia

IAEA Temukan Berbagai Bukti ..

02 Maret 2021 15:23
Dapat Bantuan Vaksin Tambahan Dari China, Presiden Zimbabwe: Terima Kasih, Xi Jinping
Dunia

Dapat Bantuan Vaksin Tambaha..

02 Maret 2021 15:02
Divonis 3 Tahun Penjara Karena Korupsi, Eks Presiden Prancis Siap Ajukan Banding
Dunia

Divonis 3 Tahun Penjara Kare..

02 Maret 2021 14:57
Tanggapi Dominic Raab, China Tegaskan Dakwaan Terhadap 47 Aktivis Hong Kong Sejalan Dengan Hukum
Dunia

Tanggapi Dominic Raab, China..

02 Maret 2021 14:40
Kolombia Jadi Negara Pertama Di Amerika Latin Yang Dapat Vaksin Lewat Skema COVAX
Dunia

Kolombia Jadi Negara Pertama..

02 Maret 2021 14:26