Larangan Impor Nanas Taiwan Oleh China Berujung Pada Tudingan Praktik Politik

Nanas Taiwan/Net

Sejumlah pakar China turut mengomentari respon keras dari Partai Progresif Demokratik (DPP) atas pelarangan impor nanas yang mereka sebut sebagai 'praktik politik' untuk memberikan tekanan ekonomi pada Taiwan.

Mulai 1 Maret ini, bea cukai China akan menangguhkan impor nanas dari Taiwan setelah otoritas karantina kerap mendeteksi hama pada buah tropis yang datang dari Taiwan sejak 2020, menurut pemberitahuan yang diterbitkan di situs web Administrasi Umum Kepabeanan (GAC) pada hari Jumat.

Namun, otoritas DPP mengklaim bahwa keputusan China itu sengaja dilakukan di tengah musim panen nanas, yang dapat menyebabkan kerugian besar bagi industri, sehingga dikatakan larangan itu "tidak dapat diterima". Otoritas bahkan meminta negara asing untuk membeli 'Freedom Pineapple' Taiwan, seolah ingin membuat penangguhan impor tersebut tampak seperti sebuah tekanan China pada Taiwan.

Menanggapi itu, pakar China mengatakan, otoritas DPP justru telah mempolitisasi masalah tersebut untuk kepentingannya sendiri. Mereka juga mencatat bahwa mengimpor buah-buahan dari daerah atau negara lain harus selalu didasarkan pada keamanan pelanggan.

Li Xiaobing, seorang ahli studi Taiwan di Nankai University di Tianjin, mengatakan kepada Global Times bahwa ketika pertukaran lintas-Selat tetap normal di masa lalu, masalah semacam ini tidak akan menyebabkan kerugian yang signifikan karena kedua belah pihak dapat menemukan solusi melalui koordinasi dan kerja sama, tetapi hari ini, komunikasi dan pertukaran telah rusak parah oleh otoritas DPP.

"DPP yang harus disalahkan," ujarnya.

China telah lama menjadi tujuan ekspor nanas terpenting di Taiwan. Taiwan mengekspor 41.661 ton nanas segar ke daratan pada tahun 2020, menyumbang 91 persen dari total ekspor nanas pulau itu tahun itu, menurut statistik dari Dewan Pertanian Taiwan.

Lin Cheng-chieh, salah satu pendiri DPP dan mantan anggota parlemen Taiwan, juga berpendapat bahwa menyalahkan China atas larangan nanas adalah tidak adil.

"Perekonomian Taiwan meminum 'ASI' dari tubuh daratan. China telah menyerahkan keuntungan dalam jumlah besar kepada kami, tetapi kami tidak pernah bersyukur. Kami selalu memperlakukan mereka sebagai musuh," ujarnya dalam sebuah wawancara bersama media Taiwan.

"Ketika Taiwan memperlakukan daratan secara tidak adil dengan permusuhan, bagaimana Anda bisa menuntut daratan untuk bersikap ramah?" kata Lin.

Seorang ahli urusan Taiwan yang berbasis di Beijing yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Global Times bahwa tindakan yang selama ini dilakukan DPP justru adalah 'praktik politik' yang sebenarnya, dan mereka sama sekali tidak merasa bersalah.

"Mereka harus berterima kasih karena China tidak memberikan sanksi ekonomi kepada mereka dalam dua tahun terakhir," ujarnya.

Nanas Taiwan dan produk terkait sebagian besar ditanam dan diproduksi di bagian selatan pulau, yang sebagian besar mendukung DPP. Jadi kali ini, pelarangan berdasarkan alasan keamanan hayati mungkin membuat mereka menyadari bahwa China dapat membuat mereka menderita jika terus berlanjut, kata ahli tersebut.

"Bisnis nanas hanyalah sebagian kecil dari perdagangan lintas Selat, dan larangan tersebut telah menyebabkan banyak sakit kepala bagi DPP. Jadi mari kita pikirkan: Bagaimana jika suatu hari daratan (China) semakin marah dan memilih untuk menggunakan sanksi nyata secara komprehensif. menyerang ekonomi Taiwan? Daratan bisa memberi tahu mereka apa rasa sakit yang sebenarnya," kata ahli itu.

Para ahli mengatakan bahwa bagian besar lainnya dari perdagangan lintas Selat seperti produk semikonduktor, pelat listrik, dan peralatan mesin yang dikendalikan secara numerik semuanya bisa menjadi target jika daratan benar-benar ingin memberikan sanksi kepada pulau itu.

Media Taiwan melaporkan, penangguhan impor keseluruhan China telah menciptakan kerugian hampir 1,5 miliar TWD (setara 53,9 juta dolar AS) bagi Taiwan.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Ketika Anies Baswedan Mempengaruhi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)

Minggu, 18 April 2021
Video

RMOL World View • Antara AS, Iran Dan Israel

Senin, 19 April 2021
Video

Rekaman CCTV Anggota Brimob Tewas Dikeroyok

Senin, 19 April 2021

Artikel Lainnya

Beijing: Invasi Jepang Ciptakan Malapetaka Besar Bagi Negara-negara Asia, Terutama China
Dunia

Beijing: Invasi Jepang Cipta..

20 April 2021 06:22
Hadiri World Tour Contact-Free, Dubes Umar Hadi: Jangan Hanyut Dengan Corona Blues
Dunia

Hadiri World Tour Contact-Fr..

20 April 2021 04:43
Annalena Baerbock, Kandidat Kuat Pengganti Angela Merkel Di Kursi Kanselir Jerman
Dunia

Annalena Baerbock, Kandidat ..

19 April 2021 23:21
PM Pakistan Ajak Negara Mayoritas Muslim Satu Suara Untuk Kriminalisasi Penistaan Terhadap Islam
Dunia

PM Pakistan Ajak Negara Mayo..

19 April 2021 22:53
Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Segar, 10 Pejabat Junta Militer Dan 2 Perusahaan Myanmar Jadi Target
Dunia

Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Se..

19 April 2021 21:55
Akhirnya Rusia Pindahkan Alexei Navalny Ke Rumah Sakit
Dunia

Akhirnya Rusia Pindahkan Ale..

19 April 2021 20:30
Gembong Primadjaja Akan Bantu Maksimal Alumni ITB Yang Ditangkap Polisi Korea Selatan
Dunia

Gembong Primadjaja Akan Bant..

19 April 2021 19:36
Polisi Korea Selatan Tangkap Alumni ITB, Tersangkut Kasus Transaksi Elektronik
Dunia

Polisi Korea Selatan Tangkap..

19 April 2021 19:19