Krisis Myanmar, Marty Natalegawa: ASEAN Tidak Cukup Hanya Dalam Mode Mendengarkan

Mantan Menteri Luar Negeri Maty Natalegawa/Net

Krisis di Myanmar merupakan ujian lakmus bagi ASEAN dan negara-negara di kawasan. Namun mantan Menteri Luar Negeri Maty Natalegawa optimis ASEAN dapat menunjukkan ketangguhannya.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera yang dirilis pada Selasa (2/3), Marty menyoroti bagaimana korban jiwa berjatuhan di Myanmar. Ia menyebut, junta militer seharusnya tidak hanya diminta untuk menahan diri dari kekerasan, tapi menghentikannya.

"Kita seharusnya tidak meminta mereka menahan diri, itu adalah lereng yang licin. Hak untuk berdemonstrasi secara damai tertanam dalam deklarasi hak asasi manusia ASEAN dan piagam kami. Berhenti menembaki orang dan bebaskan para pemimpin yang dipilih secara demokratis," ujar Marty.

Sejak awal perebutan kekuasaan oleh militer Myanmar, Marty mengatakan, ASEAN dan masing-masing negara anggotanya telah mengeluarkan pernyataan. Bahkan dalam sebulan terakhir, ASEAN aktif melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait.

Terbaru, pada Selasa (2/3), ASEAN juga menggelar Informal ASEAN Ministerial Meeting (IAMM).

Namun Marty menuturkan, ASEAN tidak cukup hanya menekankan pentingnya mendengarkan, khususnya dari pihak junta militer dan pemerintahan sipil terpilih. Alih-alih, ASEAN harus menyampaikan harapan.

"Ketika kita berbicara tentang ASEAN, itu bukanlah hubungan pihak ketiga. Myanmar adalah bagian dari ASEAN. Tidaklah cukup bagi ASEAN untuk hanya berada dalam mode mendengarkan," jelas Marty.

"ASEAN harus menyampaikan harapan mereka kepada junta, bahwa demonstran damai tidak boleh ditembak, dan pemimpin yang dipilih secara demokratis harus menjadi bagian dari solusi, mereka tidak boleh ditahan dengan tuduhan sembrono," lanjutnya.

Ketika ASEAN melakukan komunikasi dengan junta militer, ia menyebut memang akan menjadi dilema hubungan diplomatik, karena publik menganggap adanya pengakuan.

Untuk itu, Marty menekankan, sangat penting bagi ASEAN untuk menjelaskan bahwa bentuk komunikasi tersebut bukan sama sekali memberikan pengakuan atau legitimasi bagi junta.

Jika mengacu pada berbagai pengalaman yang telah dilewati, Marty optimis jika ASEAN bisa membuktikan perannya.

"Berbicara tentang demokrasi di kawasan saat ini hampir seperti bersiul dalam kegelapan. Tetapi seseorang harus gigih dan memiliki ketahanan," pungkasnya.

Kolom Komentar


Video

Rekaman CCTV Anggota Brimob Tewas Dikeroyok

Senin, 19 April 2021
Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • Reshuffle Kabinet Dan Koalisi 2024

Selasa, 20 April 2021
Video

Rekaman CCTV Kecelakaan Di Cileungsi, Mobil Box Parkir Ditabrak Mobil Box

Selasa, 20 April 2021

Artikel Lainnya

Putra Mahkota MBS: China Mitra Penting Arab Saudi Dan Saudara Yang Dapat Dipercaya
Dunia

Putra Mahkota MBS: China Mit..

21 April 2021 06:16
Terjebak Kasus Voice Phising Di Korsel, Mahasiswa Indonesia Butuh Bantuan Sewa Pengacara
Dunia

Terjebak Kasus Voice Phising..

20 April 2021 22:39
Kronologi Penangkapan Mahasiswa Indonesia Di Korsel, Terjebak Voice Phising Dengan Kerugian Rp 468 Juta
Dunia

Kronologi Penangkapan Mahasi..

20 April 2021 21:51
Tolak Hegemoni, Xi Jinping: Dunia Harus Dikendalikan Semua Negara, Bukan Satu
Dunia

Tolak Hegemoni, Xi Jinping: ..

20 April 2021 17:42
Pangeran Harry Kirim Surat Untuk Sang Ayah Sebelum Terbang Ke Inggris
Dunia

Pangeran Harry Kirim Surat U..

20 April 2021 17:18
Awal Mei, India Izinkan Vaksinasi Covid-19 Kepada Penduduk Berusia Di Atas 18 Tahun
Dunia

Awal Mei, India Izinkan Vaks..

20 April 2021 17:01
Joe Biden Dan Jimmy Carter Berduka Atas Meninggalnya  Walter Mondale: Dia Wakil Presiden Terbaik Dalam Sejarah AS
Dunia

Joe Biden Dan Jimmy Carter B..

20 April 2021 16:47
Mantan Wakil Presiden AS Walter Mondale Meninggal Dunia Di Usia 93 Tahun
Dunia

Mantan Wakil Presiden AS Wal..

20 April 2021 16:40