Emmanuel Macron Akui Pasukan Prancis Siksa Dan Bunuh Pejuang Kemerdekaan Aljazair Ali Boumendjel

Presiden Emmanuel Macron/Net

Presiden Emmanuel Macron secara terbuka mengakui bahwa pasukan Prancis menyiksa dan membunuh pejuang kemerdekaan Aljazair Ali Boumendjel, seorang nasionalis dan pengacara yang ditangkap selama perang kemerdekaan negaranya. Selama penyebab kematiannya ditutup-tutupi sebagai kasus bunuh diri.

Pengakuan 'atas nama Prancis' tersebut dilakukan Macron selama pertemuan dengan cucu Boumendjel. Hal itu diketahui dari pernyataan resmi yang dikeluarkan Istana Elysee.

"Boumendjel ditempatkan tanpa komunikasi, disiksa, dan kemudian dibunuh pada tanggal 23 Maret 1957," kata Istana Elysee dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Rabu (3/3).

"Ali Boumendjel tidak bunuh diri. Dia disiksa dan kemudian dibunuh," kata Macron kepada cucu Boumendjel, menurut pernyataan itu.  

Macron sempat memicu kemarahan ketika dia menolak mengeluarkan permintaan maaf resmi atas pelanggaran yang dilakukan selama pendudukan Aljazair. Alih-alih meminta maaf, saat itu Macron justru setuju untuk membentuk 'komisi kebenaran' seperti yang direkomendasikan oleh sebuah laporan yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menjelaskan masa lalu kolonial Prancis .

Prancis adalah rumah bagi jutaan orang yang memiliki hubungan dengan Aljazair - termasuk keturunan mantan penjajah Prancis - dan Perang Kemerdekaan Aljazair yang berlangsung delapan.  Pertempuran tersebut telah menjadi masalah yang sangat memecah belah antara Prancis dan bekas koloninya serta di dalam populasi Muslim Prancis yang besar.

Penyiksaan, penghilangan dan kematian dalam tahanan serta selama operasi keamanan menandai perang, tetapi presiden Prancis secara berturut-turut telah menghindari konflik yang terkait dengan penghinaan dan kebrutalan nasional.

Ini bukan pertama kalinya publik mengetahui kebenaran atas penyebab kematian Boumendjel.

Pada tahun 2000, mantan kepala intelijen Prancis di Algiers Paul Aussaresses mengaku memerintahkan kematian Boumendjel dan menyamarkan pembunuhan itu sebagai bunuh diri, menurut pernyataan itu.

Macron pada hari Selasa juga telah menegaskan kembali keinginannya untuk memberi kesempatan kepada keluarga untuk mengetahui dan memukan kebenaran tentang kematian ini.

Bulan lalu, keponakan Boumendjel, Fadela Boumendjel-Chitour, bahkan mengecam apa yang disebutnya kebohongan 'menghancurkan' yang diceritakan negara Prancis tentang pamannya.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Ketika Anies Baswedan Mempengaruhi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)

Minggu, 18 April 2021
Video

RMOL World View • Antara AS, Iran Dan Israel

Senin, 19 April 2021
Video

Rekaman CCTV Anggota Brimob Tewas Dikeroyok

Senin, 19 April 2021

Artikel Lainnya

Beijing: Invasi Jepang Ciptakan Malapetaka Besar Bagi Negara-negara Asia, Terutama China
Dunia

Beijing: Invasi Jepang Cipta..

20 April 2021 06:22
Hadiri World Tour Contact-Free, Dubes Umar Hadi: Jangan Hanyut Dengan Corona Blues
Dunia

Hadiri World Tour Contact-Fr..

20 April 2021 04:43
Annalena Baerbock, Kandidat Kuat Pengganti Angela Merkel Di Kursi Kanselir Jerman
Dunia

Annalena Baerbock, Kandidat ..

19 April 2021 23:21
PM Pakistan Ajak Negara Mayoritas Muslim Satu Suara Untuk Kriminalisasi Penistaan Terhadap Islam
Dunia

PM Pakistan Ajak Negara Mayo..

19 April 2021 22:53
Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Segar, 10 Pejabat Junta Militer Dan 2 Perusahaan Myanmar Jadi Target
Dunia

Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Se..

19 April 2021 21:55
Akhirnya Rusia Pindahkan Alexei Navalny Ke Rumah Sakit
Dunia

Akhirnya Rusia Pindahkan Ale..

19 April 2021 20:30
Gembong Primadjaja Akan Bantu Maksimal Alumni ITB Yang Ditangkap Polisi Korea Selatan
Dunia

Gembong Primadjaja Akan Bant..

19 April 2021 19:36
Polisi Korea Selatan Tangkap Alumni ITB, Tersangkut Kasus Transaksi Elektronik
Dunia

Polisi Korea Selatan Tangkap..

19 April 2021 19:19