Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Memandu Asia-Pasifik Untuk Kembali Membangun Dengan Lebih Baik

Armida Salsiah Alisjahbana, Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik/Net

Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) dalam laporan terbarunya mengenai Kemajuan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) Asia dan Pasifik 2021, menyatakan bahwa Kawasan Asia-Pasifik gagal mencapai tonggak tahun 2020 untuk mencapai Tujuan, bahkan sebelum memasuki pandemi Covid-19.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik, Armida Salsiah Alisjahbana mengatakan, bahwa krisis Covid-19 telah menimbulkan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pembangunan di kawasan Asia-Pasifik.  

"Namun begitu, saat ini kami memiliki kabar baik bahwa kami tahu cara mengatasi tantangan ini. Pemulihan dari pandemi dan upaya global kami untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs) pada  2030 harus berjalan seiring," ujarnya dalam artikelnya di IPS Inter Pers.

Kawasan ini harus mempercepat kemajuan di mana-mana dan segera membalikkan tren penurunannya pada banyak Tujuan dan target untuk mencapai ambisi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Banyak tantangan yang dihadapi di Kawasan, seperti menyediakan tenaga perawatan kesehatan yang memadai, mengurangi kematian dini, dan meningkatkan kesehatan mental. Menurut Armida, saat menemukan jalan keluar dari pandemi ini, fokusnya adalah upaya pada pertumbuhan yang lebih adil dan lebih hijau.

Arminda menggarisbawahi bahwa lingkungan dan kelompok populasi yang paling rentan seharusnya tidak dikorbankan untuk ambisi ekonomi dan industrialisasi.

Pengamatan paling mengkhawatirkan dalam laporan ESCAP yang baru adalah kemunduran tren aksi iklim  (Goals 13) dan kehidupan di bawah air (Goals 14).

"Wilayah Asia-Pasifik bertanggung jawab atas lebih dari setengah emisi gas rumah kaca global," ujar Armida.

Dampak merugikan dari bencana alam terhadap manusia dan perekonomian meningkat dari tahun ke tahun. Kualitas lautan terus memburuk karena aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan, dan keuntungan ekonomi dari perikanan berkelanjutan menurun.

"Pandemi Covid-19 adalah sinyal mendesak lainnya bahwa konsumsi dan produksi kita yang tidak berkelanjutan memberikan tekanan yang tak tertahankan pada ekosistem. Kecuali jika ada perubahan transformatif menuju masa depan yang berkelanjutan, pandemi akan lebih sering muncul, dengan lebih banyak kerusakan pada masyarakat dan ekonomi kita."

Konservasi satwa liar dan ekosistem sangat penting untuk mencegah pandemi di masa depan dan penularan penyakit dari hewan ke manusia.

"Terlalu dini untuk melihat dampak nyata dari pandemi Covid-19 terhadap kemajuan menuju SDGs. Namun, studi awal dari badan-badan PBB di kawasan Asia-Pasifik menunjukkan tidak ada satupun Goal yang aman dari dampak negatif pandemi. Secara khusus, tujuan SDGs 'tidak meninggalkan siapa pun' dalam risiko tinggi."

Sayangnya, evaluasi yang kuat atas kemajuan SDGs terganggu oleh kurangnya data. Ketersediaan data tentang indikator telah meningkat di kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir karena lebih banyak negara memprioritaskan SDGs.

Data awal menunjukkan bahwa ibu dan anak, pelajar, pekerja informal, orang miskin, lansia, pengungsi dan pencari suaka sangat rentan. Secara bersamaan, meski ada penurunan jangka pendek dalam polusi udara selama penguncian yang ketat, dampak lingkungan negatif pandemi telah muncul. Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa resesi ekonomi yang disebabkan oleh Covid-19 dapat menyebabkan penurunan investasi dalam melindungi lingkungan alam.

"Langkah-langkah pemulihan adalah kesempatan yang sangat baik bagi kami untuk memikirkan kembali opsi kami untuk jalur pembangunan yang inklusif dan lebih tangguh. Saat kita memasuki Dekade Aksi untuk mewujudkan Agenda 2030, kita perlu memperkuat komitmen kolektif kita pada SDG dan kembali membangun bersama dengan lebih baik lagi," tutup Arimida.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

RMOL WORLD VIEW • Palestina Tidak Pernah Sendiri

Rabu, 02 Juni 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Membaca Anggaran Alutsista Rp 1,7 Kuadriliun

Kamis, 03 Juni 2021
Video

Tak Berizin dan Undang Ratusan Orang, Hajatan Khitan di Semarang Dibubarkan

Senin, 07 Juni 2021

Artikel Lainnya

Presiden Tsai Ing-wen: Vaksinasi Covid-19 Untuk Masyarakat Umum Taiwan Dimulai Juli 2021
Dunia

Presiden Tsai Ing-wen: Vaksi..

12 Juni 2021 16:47
Tidak Masalah Disebut Pembunuh, Vladimir Putin: Joe Biden Lebih Mudah Diprediksi Dibanding Donald Trump Yang Penuh Warna
Dunia

Tidak Masalah Disebut Pembun..

12 Juni 2021 16:24
Wabah Baru Covid-19 Guangdong China Kebanyakan Menyerang Lansia Dan Anak, 80 Persen Alami Demam
Dunia

Wabah Baru Covid-19 Guangdon..

12 Juni 2021 15:36
Mali Umumkan Pemerintahan Baru, Peran Kunci Masih Dipegang Tokoh Militer
Dunia

Mali Umumkan Pemerintahan Ba..

12 Juni 2021 15:22
China Dan Langkahnya Yang Salah Di Eropa Tengah Dan Timur
Dunia

China Dan Langkahnya Yang Sa..

12 Juni 2021 15:09
Untuk Yang Ketiga Kali Keluarga Pilot Rusia Mengirimkan Surat Permohonan Ampunan Kepada Gedung Putih
Dunia

Untuk Yang Ketiga Kali Kelua..

12 Juni 2021 13:39
Diprotes China Karena Sebut Taiwan Sebagai Negara, Tokyo Pastikan Hubungan Jepang-Taiwan Bersifat Tidak Resmi
Dunia

Diprotes China Karena Sebut ..

12 Juni 2021 12:55
Mantan Pendeta Katolik AS Richard Daschbach Diadili Di Timor Leste, Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara
Dunia

Mantan Pendeta Katolik AS Ri..

12 Juni 2021 12:14