Dikritik Lambat Lakukan Vaksinasi, PM Thailand: Kami Tidak Ingin Membahayakan Rakyat

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha/Net

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha menjawab kritikan yang mengatakan bahwa program vaksin di negaranya berjalan lambat, dan secara tidak adil mendukung satu produsen daripada yang lain.

Ia menjelaskan bahwa pembelian vaksin yang dilakukan Thailand, didasarkan pada situasi saat itu.

Saat itu, kata PM, pemerintah tidak ingin membahayakan nyawa masyarakat karena beberapa vaksin yang ada menggunakan teknologi yang belum dicoba.

"Biar saya perjelas. Bukannya kita bertindak terlalu terlambat," katanya, seperti dikutip dari Bangkok Post, Selasa (20/4).

"Semuanya tergantung pada situasi pada waktu tertentu. Kami tidak ingin membuat orang terkena risiko ketika vaksin pertama kali diproduksi. Beberapa negara memilih untuk melakukan hal yang sama."

Dia meyakinkan bahwa vaksin yang dimiliki Thailand sekarang diberikan dengan cepat dan efisien. Begitu juga soal dugaan memonopoli vaksinasi lokal, "Itu tidak pernah terlintas di benak kami," ujarnya.  
Ia menekankan lagi bahwa pemerintahannya memikirkan faktor keamanan. "Kami tidak mampu membuat vaksin tersedia secara bebas karena hanya untuk penggunaan darurat dan pabrikan tidak akan bertanggung jawab atas efek samping yang tidak diinginkan," jelasnya.

Perdana menteri mengatakan pemerintahnya juga sedang menunggu penawaran harga dari produsen vaksin yang berbasis di AS, Pfizer sebelum melanjutkan rencana untuk membeli 5-10 juta dosis vaksinnya.

"Saya tidak bisa memastikan (apakah Thailand akan mendapatkannya atau tidak) tetapi jika semua berjalan lancar, 5-10 juta dosis dapat diberikan paling cepat Juli. Pemerintah tidak akan berlarut-larut," katanya.

Hingga Selasa, lebih dari 2,1 juta dosis vaksin Covid-19 telah tiba di Thailand.

Pada bulan Februari, 200.000 dosis berasal dari Sinovac dan 117.000 dosis lainnya dari AstraZeneca, sedangkan pada bulan Maret, 800.000 dosis lagi berasal dari Sinovac dan 1 juta dosis lainnya dari produsen yang sama bulan ini.

Sekitar 500.000 lebih dosis vaksin Sinovac akan tiba pada Sabtu mendatang, dan satu juta dosis lagi diharapkan akan dikirimkan bulan depan jika pengiriman disetujui oleh pemerintah China, kata perdana menteri.  

Selain itu, sekitar 4-6 juta dosis vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh Siam Bioscience, perusahaan bioteknologi lokal yang dikontrak untuk memproduksi vaksin Covid-19 di Thailand, akan diluncurkan secara bertahap mulai bulan Juni.

"Jumlah dosis akan ditingkatkan mulai Juli hingga mencapai 61 juta pada akhir tahun," demikian penjelasan Prayut.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Indonesia Bangkit Pembangunan Ekonomi

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Tragedi Nanggala, Lalu Apa?

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Farah Zoomtalk Spesial Ramadhan • Bincang Buku Rahasia Kesehatan Rasulullah

Minggu, 09 Mei 2021

Artikel Lainnya

Kecam Bentrokan Di Masjid Al Aqsa, Erdogan: Israel Negara Teroris Yang Kejam
Dunia

Kecam Bentrokan Di Masjid Al..

09 Mei 2021 06:12
Bantu Kamboja Perangi Covid-19, Jepang Sumbang 35 Unit Ambulans
Dunia

Bantu Kamboja Perangi Covid-..

09 Mei 2021 00:28
Indonesia: Pengusiran Paksa Warga Palestina Dan Kekerasan Di Masjid Al Aqsa Melukai Perasaan Umat Muslim
Dunia

Indonesia: Pengusiran Paksa ..

09 Mei 2021 00:21
Jelang Mothers Day, Lembaga Advokasi AST Suarakan Aspirasi Kaum Perempuan Turki
Dunia

Jelang Mothers Day, Lembaga ..

08 Mei 2021 19:09
Khamenei: Israel Bukan Negara, Tapi Basis Teroris!
Dunia

Khamenei: Israel Bukan Negar..

08 Mei 2021 17:12
Penuh Percaya Diri, Xi Jinping Yakin China Berhasil Selenggarakan Olimpiade Beijing 2022 Sesuai Jadwal
Dunia

Penuh Percaya Diri, Xi Jinpi..

08 Mei 2021 16:58
Tambang Kapur Meledak Di India, Sedikitnya 10 Pekerja Tewas Dan Puluhan Lainnya Dinyatakan Hilang
Dunia

Tambang Kapur Meledak Di Ind..

08 Mei 2021 15:54
Bentrokan Sheikh Jarrah:  Politisi AS Kecam Israel Yang Gusur Paksa Warga Palestina
Dunia

Bentrokan Sheikh Jarrah: Po..

08 Mei 2021 15:20