Pengamat: Keputusan Bersalah Chauvin Atas Pembunuhan George Floyd Gagal Menyentuh Akar Masalah Rasial AS

Ilustrasi/Net

Juri pengadilan AS  telah menyatakan bahwa mantan polisi Minneapolis, Derek Chauvin, bersalah dan bertanggung jawab atas pembunuhan George Floyd. Dengan keputusan tersebut, Chauvin kini  menunggu vonis masa hukumannya yang bisa mencapai maksimal 40 tahun penjara.

Keputusan bersalah Chauvin disambut sorak-sorai dan air mata di antara banyak orang Amerika, dan dipuji oleh beberapa politisi AS, termasuk Presiden Joe Biden, yang menyebutnya ‘langkah maju’ sementara media Barat menyebutnya sebagai ‘momen yang menentukan’.

Namun, apakah putusan kasus ini benar-benar menandai perubahan dalam krisis rasial yang mengakar di AS?

Analis China mengatakan vonis bersalah, meskipun meredakan kemarahan dan kecemasan dari kasus George Floyd selama berbulan-bulan, gagal menyentuh akar masalah rasial AS.

Video insiden Mei lalu menunjukkan bahwa Floyd, pria kulit hitam berusia 46 tahun, memohon untuk keselamatan nyawanya sementara Chauvin menekan lututnya di lehernya selama lebih dari sembilan menit saat menangkap Floyd. Floyd berulang kali memberi tahu petugas polisi bahwa dia tidak bisa bernapas sebelum akhirnya mengambil napas terakhirnya di trotoar.

Perilaku Chauvin memicu badai protes dan kerusuhan nasional terhadap kebrutalan polisi dan rasisme, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Setelah putusan diumumkan pada Selasa (20/4), ada air mata haru dan sorak-sorai di jalan-jalan Minneapolis. Bahkan Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris memuji putusan itu sebagai langkah maju dalam memerangi rasisme sistemik.

Namun, Lu Xiang, seorang peneliti studi AS di Akademi Ilmu Sosial China di Beijing, menilai bahwa putusan kasus itu tidak benar-benar menandai perubahan dalam krisis rasial yang mengakar di AS.

“Ini hampir tidak bisa disebut signifikan sama sekali,” kata Lu seperti dikutip dari Global Times, Rabu (21/4).

Beberapa politisi AS hanya memanfaatkan kasus ini untuk mendapatkan pujian, menurut Lu. Tetapi mereka gagal mengatasi akar masalah, termasuk kesenjangan kekayaan dan pengendalian senjata, yang menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk menyelesaikan masalah.

“Kasus ini memiliki pengaruh yang sangat luas karena video berdurasi sembilan menit itu sangat mencekam untuk ditonton. Tetapi kekerasan lain terhadap orang kulit hitam di AS tidak diperhatikan,” kata Lu.

Pada hari yang sama ketika putusan Chauvin dikeluarkan, seorang polisi di Columbus menembak mati gadis remaja kulit hitam yang mereka hadapi saat dia menerjang dua orang dengan pisau. Kemudian, juga di hari yang hampir sama, seorang petugas secara fatal menembak pria kulit hitam saat razia lalu lintas  di dekat Minneapolis hanya karena keliru mencabut senjata yang ia kira taser.

Cara AS memecahkan masalah bergantung pada tombak-tombak antara kelompok yang berbeda, menurut Zhang Tenglun, asisten peneliti di Institut Kajian Internasional China.

“Vonis dari kasus Floyd tidak akan menghapus konflik yang mengakar. Tidak seperti China, yang dapat mengalokasikan sebagian besar sumber daya untuk memecahkan masalah di bawah pengaturan yang terkoordinasi, cara pemecahan masalah AS bergantung pada tombak tombak antara kelompok yang berbeda. Tapi prosesnya akan sangat lambat dan menyakitkan bagi AS,” kata Zhang.

Di saat kemarahan yang dipicu oleh gerakan Black Lives Matter belum mereda, meningkatnya kejahatan rasial terhadap orang Asia semakin memperlebar jurang rasial yang semakin dalam di negara itu.

“Kebencian Asia sebagian besar dipicu oleh mantan presiden AS Donald Trump dan politisi lainnya, yang mencela ‘virus China’ dan mengambil sikap bermusuhan terhadap China di setiap lini, dan menyalahkan negara lain, terutama China atas semua kegagalan AS,” kata Zhang.

Analis mengatakan setelah Biden menjabat, dia sebenarnya tetap mengulangi taktik lama Trump, namun bedanya, dia menutupnya  dengan cara yang lebih lembut.

“Kata-kata indah politisi tidak banyak berguna dalam meredam meningkatnya konflik rasial di AS. Namun ketidakmampuan mereka untuk menyelesaikan masalah rasial dan terus menyalahkan orang lain hanya akan menyeret AS ke dalam masyarakat yang lebih terpecah,” menurut Zhang.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

RMOL WORLD VIEW • Palestina Tidak Pernah Sendiri

Rabu, 02 Juni 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Membaca Anggaran Alutsista Rp 1,7 Kuadriliun

Kamis, 03 Juni 2021
Video

Tak Berizin dan Undang Ratusan Orang, Hajatan Khitan di Semarang Dibubarkan

Senin, 07 Juni 2021

Artikel Lainnya

Presiden Tsai Ing-wen: Vaksinasi Covid-19 Untuk Masyarakat Umum Taiwan Dimulai Juli 2021
Dunia

Presiden Tsai Ing-wen: Vaksi..

12 Juni 2021 16:47
Tidak Masalah Disebut Pembunuh, Vladimir Putin: Joe Biden Lebih Mudah Diprediksi Dibanding Donald Trump Yang Penuh Warna
Dunia

Tidak Masalah Disebut Pembun..

12 Juni 2021 16:24
Wabah Baru Covid-19 Guangdong China Kebanyakan Menyerang Lansia Dan Anak, 80 Persen Alami Demam
Dunia

Wabah Baru Covid-19 Guangdon..

12 Juni 2021 15:36
Mali Umumkan Pemerintahan Baru, Peran Kunci Masih Dipegang Tokoh Militer
Dunia

Mali Umumkan Pemerintahan Ba..

12 Juni 2021 15:22
China Dan Langkahnya Yang Salah Di Eropa Tengah Dan Timur
Dunia

China Dan Langkahnya Yang Sa..

12 Juni 2021 15:09
Untuk Yang Ketiga Kali Keluarga Pilot Rusia Mengirimkan Surat Permohonan Ampunan Kepada Gedung Putih
Dunia

Untuk Yang Ketiga Kali Kelua..

12 Juni 2021 13:39
Diprotes China Karena Sebut Taiwan Sebagai Negara, Tokyo Pastikan Hubungan Jepang-Taiwan Bersifat Tidak Resmi
Dunia

Diprotes China Karena Sebut ..

12 Juni 2021 12:55
Mantan Pendeta Katolik AS Richard Daschbach Diadili Di Timor Leste, Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara
Dunia

Mantan Pendeta Katolik AS Ri..

12 Juni 2021 12:14