Ashraf Ghani Minta AS Lanjutkan Pendanaan Militer Afghanistan Meski Sudah Tarik Pasukannya

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani/Net

  Presiden Ashraf Ghani mengharapkan Amerika Serikat (AS) dan NATO tetap memenuhi komitmennya untuk pendanaan keamanan Afghanistan jika telah menarik semua pasukannya.

Hal itu disampaikan Ghani lewat sebuah artikel yang ditulisnya dan diterbitkan oleh majalah Foreign Affairs pada Selasa (4/5).

"Keputusan Presiden Joe Biden untuk menarik 2.500 tentara AS yang tersisa dari Afghanistan pada September merupakan titik balik bagi negara dan tetangga kita," tulis Ghani, seperti dikutip The Hill.

"Pemerintah Afghanistan menghormati keputusan itu dan memandangnya sebagai momen peluang dan risiko bagi dirinya sendiri, untuk Afghanistan, untuk Taliban, dan untuk wilayah tersebut," tambah Ghani.

Namun, Ghani mengatakan, pendanaan pasukan keamanan AS dan NATO dapat menjadi satu-satunya kontribusi paling penting untuk membantu perdamaian di Afghanistan.

"Selain itu, sangat penting bahwa Amerika Serikat dan NATO memenuhi komitmen yang ada untuk mendanai ANDSF (Pasukan Pertahanan dan Keamanan Nasional Afghanistan)," kata Ghani.

"Ini mungkin satu-satunya kontribusi terpenting yang dapat diberikan komunitas internasional untuk transisi yang sukses menuju perdamaian di Afghanistan," jelasnya.

Dalam tulisannya, Ghani juga membahas upaya yang telah dia lakukan untuk mencapai perdamaian dengan Taliban. Ia mengatakan pemerintahannya tetap siap untuk melanjutkan pembicaraan dengan Taliban.

Ia juga memuji pasukan keamanannya dan menegaskan bahwa ANDSF siap untuk membela negara setelah pasukan AS pergi.

Ghani mengaku, keputusan Presiden Joe Biden untuk menarik pasukan AS telah mengejutkan Taliban. Namun ia menyoroti, risiko terbesar bagi perdamaian di Afghanistan adalah kesalahan perhitungan terhadap Taliban.

"Taliban masih percaya narasi mereka sendiri bahwa mereka telah mengalahkan NATO dan Amerika Serikat. Mereka merasa berani, dan karena para pemimpin politik mereka tidak pernah mendorong cabang militer mereka untuk menerima gagasan perdamaian, risiko terbesar adalah bahwa Taliban akan terus tidak menunjukkan minat yang sungguh-sungguh dalam membuat kesepakatan politik dan sebagai gantinya akan memilih untuk melanjutkan agresi militer," ucap Ghani.

Pada April, Biden mengumumkan rencana penarikan pasukan AS yang tersisa di Afghanistan pada 11 September, bertepatan 20 tahun peringatan tragedi 9/11 yang menjadi penyebab invasi Amerika ke Afghanistan.

Kolom Komentar


Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Tragedi Nanggala, Lalu Apa?

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Farah Zoomtalk Spesial Ramadhan • Bincang Buku Rahasia Kesehatan Rasulullah

Minggu, 09 Mei 2021
Video

RMOL WORLD VIEW • Mengenal Tradisi Ramadhan Di Uzbekistan

Senin, 10 Mei 2021

Artikel Lainnya

Pantau Terus Perkembangan Situasi Yerusalem,  Rusia Lakukan Kontak Dengan Palestina Setiap Hari
Dunia

Pantau Terus Perkembangan Si..

11 Mei 2021 05:58
Tertahan Di Tepi Amu Darya, Ini Cerita Teguh Santosa
Dunia

Tertahan Di Tepi Amu Darya, ..

11 Mei 2021 01:02
Thailand Catat Kasus Pertama Varian B1617, Menginfeksi Seorang Wanita Hamil
Dunia

Thailand Catat Kasus Pertama..

10 Mei 2021 21:57
Aung San Suu Kyi Akan Hadiri Persidangan Secara Langsung Untuk Pertama Kalinya
Dunia

Aung San Suu Kyi Akan Hadiri..

10 Mei 2021 21:03
Malaysia Kembali Berlakukan Perintah Kontrol Gerakan Jelang Lebaran
Dunia

Malaysia Kembali Berlakukan ..

10 Mei 2021 20:46
Bentrokan Di Hari Yerusalem, Ratusan Warga Palestina Terluka
Dunia

Bentrokan Di Hari Yerusalem,..

10 Mei 2021 17:20
Iran Benarkan Adanya Komunikasi Dengan Arab Saudi Demi Perbaiki Hubungan
Dunia

Iran Benarkan Adanya Komunik..

10 Mei 2021 16:43
Terkendala Pembatasan, Kunjungan  Ketua Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach Ke Jepang Ditunda
Dunia

Terkendala Pembatasan, Kunju..

10 Mei 2021 16:40