Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Empat Kali Nama China Disebut Dalam Poin Pernyataan G7, Beijing: Berhentilah Memfitnah Dan Menciptakan Konfrontasi

LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 15 Juni 2021, 07:54 WIB
Empat Kali Nama China Disebut Dalam Poin Pernyataan G7, Beijing: Berhentilah Memfitnah Dan Menciptakan Konfrontasi
Pertemuan negara-negara G7/Net
China buka suara atas hasil pertemuan para pemimpin negara yang tergabung dalam Group of Seven atau G7 yang baru-baru ini diselenggarakan di Inggris.

Mereka menuduh pertemuan yang digelar 11-13 Juni tersebut telah menciptakan konfrontasi dan gesekan, alih-alih mempromosikan kerja sama global melawan pandemi Covid-19 dan perubahan iklim.

Dalam pernyataannya, kelompok G7, yang terdiri dari AS, Jepang, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Kanada terhitung menyebut China sebanyak empat kali.

Pertama, mereka menyerukan penyelidikan lebih lanjut tentang asal-usul pandemi, khususnya termasuk di China.

Kedua, menjanjikan untuk menantang "praktik non-pasar" di industri China.

Ketiga, berbicara menentang kebijakan China di Xinjiang dan Hong Kong.

Keempat, menentang segala upaya untuk mengubah status quo di Selat China Selatan, yang memisahkan daratan Cina dari pulau Taiwan.

Kedutaan China di Inggris, yang bertindak sebagai negara tuan rumah pertemuan itu, kemudian mengeluarkan pernyataannya sendiri yang mengutuk komunike G7.

"Berhenti memfitnah China, berhenti mencampuri urusan dalam negeri kami, berhenti melanggar kepentingan kami dan berbuat lebih banyak untuk mempromosikan kerja sama internasional alih-alih menciptakan konfrontasi dan gesekan," kata pernyataan kedutaan, seperti dikutip dari CGTN, Selasa (15/6).

"Upaya untuk mempolitisasi penyelidikan tentang bagaimana Covid-19 pertama kali mulai menyebar adalah kontraproduktif dan merusak penelitian ilmiah," ungkap jubir kedutaan.

"Kebijakan China di Xinjiang dan Hong Kong meningkatkan kehidupan orang-orang yang tinggal di sana dan merupakan masalah domestik yang menjadi tanggung jawab Beijing," tambahnya.

Mengenai masalah Taiwan, pernyataan kedutaan menekankan bahwa pulau itu merupakan bagian integral dari China, yang tidak akan menerima hasil lain selain reunifikasi.

Pernyataan itu juga membela catatan ekonomi China, menunjukkan bahwa negara itu telah menopang pertumbuhan global selama bertahun-tahun dan berkomitmen untuk membuka diri lebih jauh, bahkan ketika negara-negara termasuk AS menggunakan dalih keamanan untuk mendiskriminasi bisnis asing.

Ini adalah pertama kalinya kelompok itu secara khusus membidik China. Namun, para pemimpin juga memuji upaya mereka untuk mengatasi perubahan iklim dan memerangi pandemi, tanpa menyebut China dalam konteks itu.

"Yang dibutuhkan masyarakat internasional adalah kerja sama dan solidaritas di antara semua anggotanya," kata pernyataan China.

"Namun, apa yang dunia lihat di KTT itu adalah permainan politik kelompok 'lingkaran kecil' dan politik kekuasaan," kata mereka.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA