Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Saudara Kembar Asal Palestina Sulap Boeing 707 Yang Dibeli Dari Israel Jadi Restoran Di Tepi Barat

LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 08 Juli 2021, 14:29 WIB
Saudara Kembar Asal Palestina Sulap Boeing 707 Yang Dibeli Dari Israel Jadi Restoran Di Tepi Barat
Sebuah pesawat Boeing 707 yang dinonaktifkan dari tahun 1980-an telah diubah menjadi "Restoran Maskapai Penerbangan Palestina-Yordania dan Kedai Kopi Al-Sairafi Nablu/Net
Dua saudara kembar asal Palestina berhasil menyulap pesawat Boeing 707 yang telah dinonaktifkan menjadi sebuah restoran. Ide kreatif pria-pria asal Tepi Barat yang diduduki Israel ini patut diacungi jempol.

Ata dan Khamis al-Sairafi (60) berharap akan menyambut pelanggan pertama mereka dalam beberapa minggu ke depan di lokasi di daerah pegunungan terpencil di dekat Nablus.

Di dalam kabin jet tua, kursi-kursi dan kaca jendela dilepas. Mereka kemudian memasang meja  di badan pesawat yang telah dicat putih dengan lantai kayu laminasi.

Kedua saudara itu menyebut restoran bertema penerbangan mereka - yang dihiasi dengan bendera Palestina dan Yordania – dengan nama ‘Restoran Maskapai Penerbangan Palestina-Yordania dan Kedai Kopi Al-Sairafi Nablus’.

“Kami akan mulai dengan menyediakan hookah,” kata Khamis, merujuk orang-orang yang menikmati merokok tembakau melalui pipa air. Bisnis itu kelak akan merambah kee penyewaan ruang acara.

“Kokpit akan menjadi tempat yang cocok untuk pengantin baru yang datang kepada kami untuk upacara pernikahan mereka,” katanya, seperti dikutip dari AFP, Kamis (8/7).

Ata mengatakan dia dan saudaranya bekerja sebagai pedagang besi tua dua dekade lalu ketika dia mengetahui tentang pesawat penumpang era 1980-an yang duduk di dekat Kiryat Shmona di Israel utara.

Mereka membelinya pada tahun 1999, meskipun tidak ada bandara di Wilayah Palestina, dan biasanya memaksa penduduk yang ingin terbang ke luar negeri untuk melakukan perjalanan melalui Yordania.

Kedua saudara itu bernegosiasi dengan pemiliknya yang orang Israel, yang menjualnya kepada mereka seharga 100.000 dolar AS, dengan keadaan pesawat tanpa mesin.

“Setelah kami membelinya, kami harus memindahkannya dari Israel ... yang merupakan proses yang rumit,” kata Ata.

Si kembar kemudian membayar perusahaan Israel sebesar 20.000 dolar AS untuk memindahkan jet ke Tepi Barat, yang telah diduduki Israel sejak menaklukkan wilayah itu bersama dengan Yerusalem timur dari Yordania pada tahun 1967.

Keduanya mengatakan, mereka mengkoordinasikan pemindahan pesawat dengan pihak Israel dan Palestina dengan memakan waktu sekitar 13 jam.

“Jalan-jalan utama ditutup sehingga pesawat dapat digulingkan di atas truk derek raksasa, sayapnya terpisah sementara, ke lokasi saat ini,” kata mereka.

“Banyak media meliputnya, dan polisi Israel turun tangan untuk mengatur pemindahan itu,” kenang Khamis.

“Kami menerima pesawat, yang berasal dari tahun 1980-an, tanpa peralatan apa pun yang memungkinkannya terbang,” kata Ata.

Si kembar mengatakan mereka berharap untuk menjalankan sebuah restoran di luar pesawat sejak sekitar tahun 2000, tetapi peluncuran itu tersendat dengan pecahnya intifada Palestina kedua.

“Peristiwa di wilayah Palestina pada waktu itu menghambat penyelesaian proyek kami, dan kami berpikir untuk menghidupkannya kembali dua tahun lalu, tetapi penyebaran virus corona juga menghalangi kami untuk melakukannya,” kata Khamis.

Proyek ini menghadapi satu lagi tantangan, yaitu lingkungan. Pesawat itu duduk di properti berbatasan dengan stasiun pemilahan sampah yang si kembar mencoba meyakinkan pihak berwenang setempat untuk pindah ke tempat lain.

Pada akhirnya, mereka mengatakan mereka berharap proyek mereka akhirnya akan berkembang setelah dihentikan selama hampir seperempat abad.

“Memiliki pesawat terbang di wilayah Palestina adalah ide yang aneh sehingga saya yakin proyek itu akan sukses,” ungkap Khamis.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA