Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Sanksi Berat Bagi Nakes Prancis Dan Yunani Yang Menolak Divaksin, Mulai Tidak Digaji Hingga Risiko Kehilangan Pekerjaan

LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 14 Juli 2021, 15:05 WIB
Sanksi Berat Bagi Nakes Prancis Dan Yunani Yang Menolak Divaksin, Mulai Tidak Digaji Hingga Risiko Kehilangan Pekerjaan
Ilustrasi/Net
Sejumlah negara di dunia termasuk Eropa telah mewajibkan vaksinasi bagi petugas kesehatan, beberapa pemimpin bahkan mempertimbangkan untuk membuat suntikan wajib untuk semua anggota masyarakat. Keputusan tersebut merujuk pada semakin meningkatnya lonjakan kasus virus corona yang disebabkan terutama oleh varian Delta.

Dua negara Eropa, yakni Prancis dan Yunani menjadi salah satu negara yang ikut mewajibkan vaksinasi wajib bagi petugas kesehatan, dan telah mengumumkannya pada Senin (12/7). Ini mengikuti jejak Italia yang telah lebih dulu membuat peraturan serupa pada April lalu.

Tidak semua petugas kesehatan senang dengan langkah tersebut. Di Italia, beberapa tantangan pengadilan yang diluncurkan oleh mereka yang tidak ingin divaksinasi sedang disidangkan minggu ini. Sementara di Inggris, petisi menentang rencana untuk membuat vaksin wajib telah menarik lebih dari 72.000 tanda tangan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pengumumannya pada Senin mengatakan bahwa pekerja perawatan kesehatan, karyawan rumah perawatan dan mereka yang bekerja dengan pasien yang rentan dan lemah di Prancis harus divaksinasi pada 15 September.

Berbicara di televisi LCI setelah pengumuman Macron, Menteri Kesehatan Olivier Veran menambahkan bahwa pekerja perawatan kesehatan yang tidak divaksinasi akan dilarang bekerja dan mereka tidak akan dibayar setelah batas waktu September.

Macron juga mengisyaratkan kemungkinan membuat suntikan wajib bagi semua orang jika epidemi memburuk.

“Tergantung pada situasinya, tidak diragukan lagi kita harus bertanya pada diri sendiri pertanyaan tentang vaksinasi wajib untuk semua orang Prancis,” ujar Macron, seperti dikutip dari CNN, Rabu (14/7).

“Saya telah membuat pilihan kepercayaan dan saya mengimbau semua warga negara kita yang tidak divaksinasi untuk pergi dan divaksinasi sesegera mungkin,” tambahnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis di hari yang sama juga mengumumkan bahwa vaksinasi wajib bagi staf panti jompo, segera berlaku.

“Mereka yang menolak akan diskors dari pekerjaan mulai 16 Agustus,” katanya, seraya menambahkan bahwa mulai September, vaksinasi akan diwajibkan untuk semua petugas kesehatan baik di sektor publik maupun swasta.

Mitsotakis juga mengatakan, mulai Jumat (16/7) hingga akhir Agustus, hanya mereka yang telah divaksin yang dapat mengunjungi area komersial dalam ruangan seperti pusat hiburan, bar, teater, dan bioskop.

“Negara ini tidak akan ditutup lagi karena sikap beberapa orang,” katanya, seraya menambahkan bahwa “bukan Yunani yang dalam bahaya, tetapi orang Yunani yang tidak divaksinasi.”

Keputusan berbeda diambil Kanselir Jerman Angela Merkel, yang mengatakan pada Selasa  (13/7) bahwa pemerintahnya telah memutuskan untuk tidak mewajibkan vaksinasi, menambahkan bahwa dia yakin lebih banyak orang masih ingin divaksinasi. Dia mengatakan terserah kepada pihak berwenang untuk membuat informasi dan vaksin lebih mudah diakses.

Namun, dia menekankan bahwa pembatasan Covid di negara itu tidak akan dicabut sampai lebih banyak orang mendapat suntikan.

Langkah Prancis dan Yunani terjadi ketika kedua negara -- dan memang sebagian besar Eropa -- mengalami peningkatan tajam dalam kasus virus corona yang disebabkan oleh varian Delta. Strain, yag pertama kali diidentifikasi di India awal tahun ini, lebih mudah menular dan telah menyebar ke seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir.

Ada juga kekhawatiran, berdasarkan pernyataan dari pemerintah Israel, bahwa vaksin Covid-19 yang ada mungkin sedikit kurang efektif dalam mencegah semua infeksi yang disebabkan oleh varian Delta, dibandingkan dengan strain sebelumnya.

Ancaman yang ditimbulkan oleh varian Delta juga telah mendorong beberapa pemerintah Eropa untuk menerapkan kembali pembatasan dalam beberapa hari terakhir.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA