Farah.ID
Farah.ID

Narasi Obat Palsu Klorin Dioksida Di Tengah Pandemi Covid-19

LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 21 Juli 2021, 22:23 WIB
Narasi Obat Palsu Klorin Dioksida Di Tengah Pandemi Covid-19
Andreas Kalcker merupakan sosok yang gencar menggaungkan penggunaan Klorin Dioksida untuk tangani kasus Covid-19/Repro
Di tengah pandemi Covid-19 yang menghantui banyak negara di dunia hingga saat ini, setiap orang perlu waspada bukan hanya bahaya dari virus corona itu sendiri, melainkan juga bahaya dari informasi yang salah.

Pasalanya, pandemi memaksa banyak orang di dunia untuk semakin kritis dalam menyaring serta mencerna informasi yang diterima, agar tidak terjerumus atau terjebak dalam bahaya lain yang disebabkan oleh informasi sesat. Salah satu topik yang sering mengundang kesalahpahaman informasi di tengah situasi saat ini adalah topik yang terkait pengobatan medis, vaksin serta penanganan bagi mereka yang terinfeksi Covid-19.

Beberapa waktu lalu muncul kabar yang menyebut bahwa Chlorine Dioxide atau Klorin Dioksida merupakan obat yang "100 persen efektif" untuk menyembuhkan pasien Covid-19.

Adalah seorang pria bernama Andreas Kalcker yang gencar menggaungkan hal tersebut. Dia disebut-sebut sebagai seorang Biophysicist atau ahli biofisika. Klaim itu santer teredengar, terutama setelah dipublikasikan dalam video oleh situs Stop World Control.

Klaim Soal Klorin Dioksida

Tidak tertera tanggal kapal video tersebut diunggah di situs Stop World Control, namun dalam video itu, Kalcker mengklaim bahwa Klorin Dioksida adalah obat yang 100 persen efektif untuk Covid-19. Dia mengaku sudah melakukan penelitian lebih dari 13 tahun terakhir pada zat tersebut dan hasilnya, Klorin Dioksida itu, menurutnya, memiliki dampak yang luar biasa ketika digunakan sebagai pengobatan.

Lantas, bagaimana kerja Klorin Dioksida?

Kalcker menjelaskan, zat tersebut bekerja dengan cara meningkatkan oksigen di dalam darah sambil mengeliminasi patogen.

"Tidak masalah apakah itu virus atau jamur atau mikroba, karena itu melakukannya dengan oksidasi," jelasnya.

"Itu (Klorin Dioksida) seperti listrik, membuat syok atau terbakar. Tidak ada bakteri yang tahan untuk dibakar," sambungnya, dalam penjelasan di video tersebut.

Meski begitu dia menggarisbawahi, cara kerja Klorin Dioksida dengan memberikan oksidasi kecil namun dengan dapak yang besar.

"Oksidasi ini cukup besar untuk mengeliminasi sebuah virus, namun tidak cukup besar untuk membahayakan sel," klaimnya.

Lebih lanjut dia menuturkan bahwa pada mulanya, dia dan timnya membuat tes pendahuluan di Guayaquil, Ekuador yang merupakan kota paling terdampak dalam hal korban jiwa akibat Covid-19.

Lalu, apakah legal menggunakan Klorin Dioksida untuk menangani pasien saat belum penelitian yang komprehensif dan izin yang diterbitkan?

Kalcker mengutip Protokol Helsinki nomor 37 yang menyebutkan bahwa setiap dokter bisa menggunakan cara apa saja jika tidak ada obat lain yang disetujui.

"Mungkin ada juga aturan lain yang melarang hal itu, seperti FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) atau apa pun di negara ini. Namun kita bicara mengenai hukum supra-nasional, dan itu adalah hak asasi manusia. Di mana tercantum bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup," paparnya.

Dia menggunakan alasan tersebut sebagai landasan yang menurutnya "legal" untuk menggunakan zat itu bagi pengobatan Covid-19.

Uji Klinis Klorin Dioksida Versi Kalcker

Masih dalam video yang sama, Kalcker menjelaskan bahwa ada uji klinis pertama yang telah dilakukan. Pada saat itu, klaimnya, ada 104 pasien Covid-19 yang diobati dengan Klorin Dioksida. Sekitar 97 persen di antara mereka sembuh dalam waktu hanya empat hari setelah perawatan.

Dia bahkan mengutip apa yang dia sebut sebagai penggunaan Klorin Dioksida di Bolivia. Dia tidak menyebutkan bulan pasti, namun menurut penuturannya, sempat ada masa di mana lebih dari 100 orang meninggal dunia di Bolivia setiap harinya akibat Covid-19. Padahal Bolivia adalah negara kecil dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa.

Kalcker mengklaim bahwa timnya yang salah satu anggotanya bernama Dr. Calisperis, membuat keberhasilan besar dengan menggunakan Klorin Dioksida pada pasien Covid-19 di lembaga kepolisian dan militer pada mulanya.

Dia juga mengklaim, dengan penggunaan pengobatan tersebut, tingkan kematian akibat Bolivia dari semula lebih dari 100 orang per hari, turun drastis hingga mencapai angka nol per hari hanya dalam kurun waktu dua bulan.

Dasar itulah yang dia katakan sebagai "bukti" akan efektivitas Klorin Dioksida. Kini, dia mengaku memiliki sebuah grup yang disebut dengan Comusav, atau akronim dalam bahasa Spanyol yang berarti "Koalisi Global untuk Kesehatan dan Kehidupan". Grup ini, sambungnya, memiliki lebih dari empat ribu dokter yang tersebar di 22 negara di dunia yang menggunakan pengobatan tersebut.

"Faktanya adalah, kita harus menyelamatkan nyawa, karena ini sangat penting," tegasnya.

Rekam Jejak Kontroversial

Jika artikel ini stop sampai sini, barangkali Klorin Dioksida akan tampak sangat menjanjikan dan membawa angin segar di tengah keputusasaan banyak pihak akibat pandemi Covid-19 yang masih jauh dari kata usai.

Namun penting untuk lebih kritis dalam mencerna setiap informasi yang kita terima, apalagi jika itu menyangkut nyawa sebagai taruhannya.

Jika melihat lebih jauh rekam jejak Comusav serta Andreas Kalcker tidak lepas dari kontroversi.

Pada tanggal 1 Juli 2021, BBC mengabarkan bahwa kelompok Comusav pernah mengorganisir kegiatan yang jelas-jelas melanggar protokol kesehatan di Lima, Peru pada tanggal 28 Juli 2020 lalu. Melalui selebaran yang dibagian di Facebook serta media sosial lainnya, Comusav meminta orang-orang untuk berkumpul di alun-alun di tengah pandemi, dan melakukan aksi protes dengan saling berhimpitan dengan orang lainnya. Comusav mengklaim, tujuannya mengorganisir aksi itu adalah untuk membela hak mereka untuk hidup dan kesehatan.

Padahal, BBC memuat bahwa pada saat yang bersamaan, mereka juga mendesak pemerintah untuk menerima apa yang BBC sebut sebagai "bahan kimia beracun" sebagai pengobatan untuk Covid-19. Istilah ini digunakan BBC untuk merujuk pada Klorin Dioksida.

Padahal faktanya, Klorin Dioksida bukan hanya tidak efektif melawan Covid-19, tetapi juga dapat menyebabkan dehidrasi yang mengancam jiwa dan gagal hati akut. Zat ini dianggap berbahaya untuk konsumsi manusia oleh otoritas kesehatan di seluruh dunia, termasuk di Peru.

Pada tahun 2020 lalu, FDA telah menekankan bahwa menggunakan zat itu untuk pengobatan Covid-19 sama dengan "minum pemutih". Meski begitu tetap saja zat tersebut menjadi buah bibir terutama di banyak negara di kawasan Amerika Latin di tahun tersebut.

Mengapa demikian?

Solusi Sederhana

Barangkali jawaban yang tepat adalah karena Klorin Dioksida pada saat itu bisa muncul sebagai "solusi sederhana", di tengah situasi publik yang sedang carut-marut. Sehingga, "solusi sederhana" itu bisa menarik antusiasme masyarakat, terutama mereka yang sudah putus asa dengan keadaan.

Sebenarnya, Klorin Dioksida bukan satu-satunya obat palsu yang mendapatkan popularitas saat dunia berjuang mencari cara untuk memerangi pandemi. Zat lain, seperti hydroxychloroquine, interferon atau azithromycin juga disebut-sebut sebagai cara yang mungkin efektif untuk mencegah virus atau mencegah pasien mengalami efek buruk.

Namun jelas, pembuktiannya membutuhkan penelitian lebih lanjut dan masih menjadi tanda tanya besar bagi banyak pihak yang kompeten menjawabnya.

"Narasi obat palsu diberi makan oleh harapan, dengan gagasan bahwa 'kami akhirnya menemukan solusinya'," jelas peneliti dari Observatorium Demokrasi di Universitas Andes di Bogota, Laura Mercan yang mempelajari bagaimana informasi palsu tentang obat palsu menyebar di Facebook di Kolombia.

Situasi ini merebak terutama pada masa awal pandemi, ketika para ilmuwan belum banyak mengetahui informasi mengenai Covid-19.

Menurutnya, dalam situasi yang ditentukan oleh ketidakpastiannya, obat-obatan tersebut ini menjanjikan jalan keluar yang sederhana. Hal itulah yang menjadi daya tarik dari narasi obat palsu, termasuk Klorin Dioksida.

Narasi Obat Palsu Bukan Hal Baru Di Muka Bumi

Sebenarnya, kondisi semacam ini bukanlah hal baru. Bahkan tidak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa hal ini mungkin merupakan pengulangan sejarah, sebuah trik pemasaran medis tertua yang pernah ada.

David Gentilcore, seorang sejarawan di University of Venice Ca'Foscari yang telah mempelajari secara ekstensif peran penipu dalam sejarah kedokteran menjelaskan kepada BBC, kembali ke masa Renaissance Italia, alun-alun kota dipenuhi dengan penipu yang menjual semua jenis ramuan dengan melebih-lebihkan klaim terapeutik mereka.

"Jauh sebelum pengembangan obat yang disetujui dan efektif untuk sebagian besar penyakit, pedagang kaki lima dapat menawarkan jalan keluar dari kerumitan tersebut," ujarnya.

"Seorang penipu bisa datang dan berkata, 'Oh, Anda demam, saya punya obat sederhana: Anda ambil satu sendok, sesendok ini setiap pagi dengan segelas anggur dan itu akan membuat Anda pulih. Ini akan bekerja pada siapa saja, kapan saja sepanjang tahun, usia berapa pun,'" jelas Gentilcore.

Hal ini, menurut Mercan, juga menjadi alasan mengapa dalam banyak kasus, obat juga digunakan sebagai instrumen politik. Ambil contoh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang pernah mempromosikan klorokuin sebagai profilaksis yang murah dan tersedia secara luas untuk melawan virus corona.

Tidak lama setelahnya, para pendukung mereka di media sosial mulai mengklaim keampuhan obat tersebut. Media sosial dalam hal ini ampuh menjadi "mesin" untuk menyampaikan pesan yang sama berkali-kali di depan orang. Media sosial juga unggul dalam mengeksploitasi apa yang dikenal sebagai "efek kebenaran ilusi", yakni salah satu mekanisme teratas yang membuat orang percaya pada informasi palsu.

"Otak cenderung salah mengartikan keakraban dengan kelancaran: ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa semakin cepat Anda memproses sesuatu, semakin akrab Anda dengannya, semakin besar kemungkinan Anda untuk mempercayainya," kata Sander van der Linden, seorang peneliti dari University of Cambridge yang berfokus pada psikologi misinformasi.

"Semakin banyak kesalahan informasi diulang, semakin besar kemungkinan Anda berpikir bahwa itu benar," tandasnya.

ARTIKEL LAINNYA