Farah.ID
Farah.ID

Gus Dur, Presiden Yang Mengubah Indonesia Dari 'Introvert' Menjadi 'Ekstrovert' Dalam Pergaulan Internasional

LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Selasa, 27 Juli 2021, 15:01 WIB
Gus Dur, Presiden Yang Mengubah Indonesia Dari 'Introvert' Menjadi 'Ekstrovert' Dalam Pergaulan Internasional
Jurubicara Gus Dur KH. Yahya Cholil Staquf dalam RMOL World View/RMOL
Ibarat peribahasa, 'gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama', Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur meninggalkan nama harum pada lembaran sejarah Indonesia.

Banyak kisah yang bisa digali dari sosok kepemimpinanya dalam membawa Indonesia bangkit, terutama pasca era reformasi. Salah satu hal yang menarik untuk digali adalah mengenai kebijakan politik luar negeri yang diambil Gus Dur.

Pada hari-hari pertama kepemimpinannya pun, Gus Dur sudah mengundang perhatian publik dengan melakukan "plesiran" ke puluhan negara. Selama 40 hari pertamanya menjabat di kursi RI 1, 23 hari di antaranya dihabiskan Gus Dur dengan melakukan perjalanan ke luar negeri.

Apa tujuannya?

Dalam program diskusi virtual mingguan RMOL World View bertajuk "Mencerna Politik Luar Negeri Gus Dur" yang dilaksanakan oleh Kantor Berita Politik RMOL pada Senin (26/7), Jurubicara Gus Dur KH. Yahya Cholil Staquf mengelaborasi lebih jauh mengenai penjelasan, alasan serta motivasi di balik setiap kebijakan luar negeri yang diambil oleh Gus Dur semasa menjabat.

"Kita bisa memahami langkah-langkah Gus Dur mengenai politik luar negeri melalui tiga hal, pertama adalah terkait dengan tujuan. Kedua mengenai framework dari semua yang dia lakukan. Dan ketiga adalah terkait strategi serta metodenya," papar Gus Yahya, begitu dia biasa disapa.

Tujuan Politik Luar Negeri Gus Dur

Terkait dengan tujuan, jelasnya, dalam hal politik luar negeri, hal yang paling pertama diutamakan oleh Gus Dur adalah mengenai bagaimana mempertahankan integritas teritorial dan sistem politik Indonesia.

"Karena kita sadari bahwa reformasi politik pada saat itu sebetulnya adalah dinamika politik yang bahaya bagi keutuhan suatu negara," ujar Gus Yahya.

"Sampai hari ini kita lihat bahwa di antara semua negara yang mengalami reformasi politik, mengalami disintegrasi teritorial seperti di Yugoslavia atau keruntuhan sistem seperti yang dialami negara-negara di Timur Tengah pada Arab Spring," sambungnya.

Oleh karena itu, Gus Dur pada saat itu mengambil peranan penting untuk menjaga agar integritas Indonesia, baik dari aspek teritorial maupun sistem, tidak terganggu.

"Integritas itu hanya bisa diraih dengan dukungan internasional yang penuh," ujar Gus Yahya.

"Gus Dur berusaha agar jangan sampai ada ruang di mana integritas Indonesia dipertanyakan oleh dunia internasional," tegasnya.

Framework Kebijakan Politik Luar Negeri Gus Dur

Untuk memahami politik luar negeri Gus Dur, Gus Yahya menjelaskan bahwa aspek lain yang perlu dipahami adalah mengenai framewrok.

Selain mengenai integritas Indonesia, hal lain yang melatarbelakangi kebijakan politik luar negeri Gus Dur adalah keseimbangan struktur politik internasional, antara negara-negara maju dan berkembang serta antara utara dan selatan.

"Kebijakan politik luar negeri Gus Dur juga soal keseibangan kekuatan yang perlu diperjuangkan supaya nanti tumbuh struktur yang seimbang di tatanan internasional," tekannya.

Metode Dan Strategi Politik Luar Negeri Gus Dur

Untuk mencapai tujuan politik luar negeri tersebut, Gus Dur perlu menggunakan metode dan strategi yang tepat.

"Nah, metode dan strateginya apa? Indonesia harus terus menerus hadir di berbagai isu internasional," papar Gus Yahya.

Oleh karena itu jelasnya, pada saat menjabat, Gus Dur rajin melakukan lawatan ke luar negeri.

"Gus Dur waktu itu rajin, yang dikatakan orang plesiran ke luar negeri. Bahkan pernah dalam seminggu ada 13 negara yang dikunjungi," kata Gus Yahya.

"Pengalaman saya ikut Gus Dur (kunjungan ke luar negeri), tidak pernah ketemu kota. Yang kita tahu bandara, istana negara, penginapan lalu bandara lagi. Jadi untuk beli oleh-oleh saja tidak sempat. Sehingga apa yang dibilang 'plesiran' itu sebetulnya realitasnya tidak seperti itu," jelasnya.

Gus Yahya menjelaskan bahwa alasan Gus Dur "ngotot" melakukan lawatan ke luar negeri adalah untuk mempertahankan kehadiran Indonesia dalam pergaulan internasional. Agar negara-negara lain melihat Indonesia hadir dan punya peran signifikan.

"Maka dalam setiap diplomatic engagement yang dilakukan, Gus Dur selalu menawarkan peran Indonesia untuk berkontribusi menyelesaikan persoalan internasional, apakah itu antar negara atau multilateral," papar Gus Yahya.

Sebagai contoh, saat bertemu dengan Raja Yordania, Gus Dur menawarkan peran Indonesia untuk melanjutkan pembicaraan dengan Israel. Atau saat bertemu pemimpin Turki dan Iran di waktu yang berbeda, Gus Dur menawarkan peran Indonesia untuk menengahi ketegangan dua negara yang terjadi saat itu.

"Ini yang dikembangkan oleh Gus Dur, supaya orang mengingat Indonesia penting dan bisa memberikan kontribusi positif," kata Gus Yahya.

Pasalnya, sambungnya, sebelum itu kehadiran Indonesia di pergaulan internasional relatif minim.

"Semasa Orde Baru, banyak ahli politik internasional bilang bahwa Indonesia terlalu introvert dalam pergaulan internasional," terang Gus Yahya.

Oleh karena itu, Gus Dur berusaha mengubah itu dan membawa Indonesia menjadi memiliki peran aktif atau dengan kata lain adalah "ekstrovert". Indonesia di era Gus Dur aktif berperan serta berkontribusi positif dalam tatanan internasional.

"Saya suka bercanda mengatakan bahwa dulu itu ada negara tirai besi yaitu Uni Soviet. Ada juga negara tirai bambu yaitu China. Nah kita ini (Indonesia) negara tirai (kain) gombal. Karena kita menutup diri, tidak aktif (dalam pergaulan internasional)," selorohnya.

ARTIKEL LAINNYA