Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Ahli Epidemiologi Dunia Akui Sudah Dengar Kemunculan Covid-19 Sejak Pertengahan Desember, China Tutup-tutupi?

LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Senin, 06 September 2021, 09:31 WIB
Ahli Epidemiologi Dunia Akui Sudah Dengar Kemunculan Covid-19 Sejak Pertengahan Desember, China Tutup-tutupi?
Ahli Epidemiologi dari Universitas Columbia, Ian Lipkin/Net
Dugaan China telah menutup-nutupi kemunculan wabah Covid-19 pada akhir 2019 semakin diperkuat dengan pernyataan seorang ahli epidemiologi kenamaan dunia.

Profesor di Universitas Columbia, Ian Lipkin mengaku telah mendapatkan kabar pertama kali mengenai wabah pandemi di Wuhan pada 15 Desember, dua pekan sebelum China mengungkapkannya kepada dunia.

Hal itu diungkap Lipkin dalam sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Spike Lee, seperti dimuat Daily Mail, Senin (6/9).

Lipkin merupakan ilmuwan AS yang telah bekerja di China selama hampir dua dekade. Ia juga kepala unit di Sekolah Kesehatan Masyarakat Mailman Columbia, yang memenangkan hibah senilai 1,34 juta dolar AS dari 2018 hingga 2020 dari EcoHealth Alliance, sebuah badan amal yang juga mendanai penelitian kontroversial tentang virus kelelawar di Institut Virologi Wuhan.

Selain di film dokumenter, Lipkin juga mengaku pertama kali mendengar informasi mengenai wabah di Wuhan pada pertengahan Desember 2019 lewat rekamanan video pusat medis Universitas Columbia.

Setelah itu, ia mengatakan telah melacak penyakit tersebut dengan rekan-rekannya di Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) sebelum mengunjungi China pada bulan berikutnya.

Pada sebuah podcast, ia juga mengatakan mendapatkan informasi dari seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Guangzhou, Lu Jiahai bahwa wabah dapat dicegah jika sistem peringatan berfungsi dengan baik.

Klaim Lipkin bertentangan dengan pernyataan Beijing yang menyatakan seorang dokter di Wuhan pertama kali melaporkan kemunculan penyakit pada 27 Desember, setelah menemukan kasus di rumah sakitnya sehari sebelumnya.

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak diberi tahu selama 16 hari setelah Taiwan membunyikan alarm.

Sejak awal pandemi, China dinilai telah menyembunyikan data, membungkam dokter, memenjarakan jurnalis, dan menyalahkan negara lain, serta menolak penyelidikan tanpa batas untuk mencari tahu asal muasal virus corona.

"China perlu berhenti memasang penghalang untuk memastikan dunia dapat memahami apa yang terjadi dan mempelajari semua pelajaran yang diperlukan untuk mencegah pandemi di masa depan," kata Lipkin.

Lipkin yang dihormati di China mengungkap, pandangannya berubah setelah mengetahui eksperimen yang dilakukan para ilmuwan di laboratorium Wuhan. Dengan eksperimen berisiko tinggi pada virus corona, mereka memiliki keamanan hayati yang rendah.

"Jika mereka memiliki ratusan sampel kelelawar yang masuk, dan beberapa di antaranya tidak dikarakterisasi, bagaimana mereka tahu apakah virus ini ada atau tidak ada di lab ini? Mereka tidak akan melakukannya," jelasnya pada Juni.

Selain Lipkins, profesor hukum kesehatan global di Washington, Lawrence Gostin, menyebut telah mengetahui wabah di Wuhan pada pertengahan Desember setelah mendengar informasi dari temannya di kota tersebut bahwa ada virus corona baru yang tampaknya sangat serius.

Ahli virologi Belanda Ron Fouchier mengatakan kepada sebuah film dokumenter bahwa ia membahas wabah terkait pada minggu pertama bulan Desember dengan rekannya Marion Koopmans, anggota tim penyelidikan WHO.

Bahkan Fouchier mengungkap, para ahli penyakit menular sudah membahas mengenai penyakit yang terkait di pasar hewan pada waktu itu.

"Selama bulan Desember menjadi jelas bahwa itu adalah virus corona yang dapat ditularkan melalui saluran udara. Kemudian semua bel alarm berbunyi dengan ahli virologi," ungkapnya.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA