Farah.ID
Farah.ID

Pengamat: Tajikistan adalah Kritikus Terberat Taliban dan Pembawa Pesan Pandangan Negara Lain

LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 15 September 2021, 06:10 WIB
Pengamat: Tajikistan adalah Kritikus Terberat Taliban dan Pembawa Pesan Pandangan Negara Lain
Presiden Tajik, Emomali Rahmon/Net
Dunia tidak lagi mempertanyakan bagaimana Taliban yang secara mengejutkan bisa merebut kekuasaan atas Afghanistan. Namun, negara-negara mempertanyakan dan menunggu apa kebijakan kelompok itu bagi Afghanistan.

Saat ini, Talibanlah yang memimpin Afghanistan. Suka atau tidak suka, negara-negara yang memiliki hubungan dengan Afganistan pada akhirnya akan berhadapan atau berbicara dengan para pemimpin baru Afghanistan itu.  

China, Iran, Uzbekistan, dan Turkmenistan, mengakui tidak ada yang bisa mereka lakukan tentang politik internal Afghanistan. Masing-masing akan tetap berhubungan dengan Afghanistan dan pemimpin barunya. Berharap ada kerja sama yang bisa dilakukan.

Terutama Pakistan, pendukung lama Taliban. Negara itu menyambut keberhasilan kelompok itu di Afghanistan.

Ini berbeda jauh dengan sikap Tajikistan. Para pemimpin Tajik telah mengambil posisi yang berbeda dengan negara-negara yang disebutkan di atas. Sikap bertentangan itu melahirkan pertanyaan, mengapa Presiden Tajik, Emomali Rahmon, dan pemerintahnya terangp-terangan menunjukkan penentangannya terhadap pemerintah Taliban di Afghanistan?

Ada banyak orang-orang Tajik di Afghanistan. Populasi mereka sekitar 25 persen dari total penduduk Afghanistan. Ini yang mendekatkan hubungan antara orang Tajik di Afghanistan dengan orang Tajik di Tajikistan.  

Orang-orang ini tidak merasakan kedekatan yang sama dengan orang-orang di negara-negara tetangga lainnya.

Penentangan Rahmon terhadap kepemimpinan Taliban dan perhatian Rahmon terhadap orang-orang Tajik yang ada di Afghanistan, membuat pemimpin Tajikistan yang biasanya tidak populer itu, mendapat dukungan publik yang jarang di negaranya.

Ada alasan lain mengapa pemerintah Rahmon sulit untuk terlibat secara terbuka dengan Taliban.

Selama perang saudara Tajikistan 1992-1997, Islamic Renaissance Party of Tajikistan (IRPT) adalah kelompok utama dalam aliansi kekuatan yang berperang melawan pemerintah Tajikistan.

Perang berakhir dengan kesepakatan damai yang menetapkan 30 persen posisi di pemerintahan harus diisi oleh perwakilan oposisi masa perang.

IRPT menjadi partai terbesar kedua di Tajikistan setelah Partai Rakyat Demokratik Tajikistan pimpinan Rahmon.

IRPT adalah partai politik berbasis Islam, tetapi jauh lebih moderat daripada Taliban.

Rahmon menganggap IRPT berpotensi menjadi ancaman terbesar bagi cengkeraman kekuasaannya. Pemerintahannya kemudian mengklaim IRPT sebagai kelompok ekstremis dan kegiatannya dilarang di Tajikistan.

Sulit untuk melihat bagaimana pemerintah Tajik dapat menjalin hubungan dengan Taliban, apalagi mempertimbangkan untuk mengakui pemerintahan Taliban, sambil terus memburu dan menindas anggota IRPT.

Ulama Islam Tajikistan, Saidmukarram Abdulkodirzoda, mengatakan, Tajikistan tidak mungkin meningkatkan hubungan dengan Taliban.

"Islam adalah kasih sayang dan persaudaraan," kata Abdulkodirzoda. "Tapi hari ini gerakan teroris yang dikenal sebagai Taliban menyebut diri mereka negara Islam dan mengeksekusi perempuan, anak-anak, dan saudara laki-laki."

Sebuah artikel di Radio Liberty menulis; Pertanyaan besarnya adalah bagaimana Rahmon dan pemerintahannya bisa begitu percaya diri menghadapi Taliban? Sulit untuk melihatnya.

Tajikistan hanyalah negara tetangga Afghanistan yang kecil dan termasuk negara miskin. Selama bertahun-tahun Tajikistan menerima bantuan dari negara-negara kuat.

Rusia adalah pemasok senjata terbesar ke Tajikistan. Begitu juga dengan China yang telah meningkatkan bantuannya kepada angkatan bersenjata negara itu selama lebih dari satu dekade.

Amerika Serikat, NATO, Uni Eropa, dan OSCE, mengirimkan banyak bantuan uang dan peralatan untuk pos perbatasan, peralatan pengawasan, pakaian musim dingin dan musim panas, kendaraan off-road, dan barang-barang sejenis lainnya.

Bantuan-bantuan itu agaknya tidak serta merta bisa melemahkan Taliban, terutama diketahui bahwa berapa kelompok ekstremis yang telah berjuang bersama Taliban selama bertahun-tahun, banyak yang berakar di Tajikistan.

Sebenarnya mungkin tidak banyak negara yang mengakui pemerintahan Taliban. Paul Stronski, pengamat dari Carnegie Endowment, mengatakan bahwa  Tajikistan adalah pembawa pesan untuk pandangan negara lain.

Pakar politik Tajik Khairullo Mirsaidov menyepakati komentar Stronski.

“Rahmon tidak mungkin membuat pernyataan seperti itu tanpa persetujuan Rusia. Sekarang Amerika Serikat telah meninggalkan Afghanistan, dan Rusia tidak ingin memberikan kendali penuh atas Afghanistan kepada Pakistan,” katanya.

Ini juga memberikan kesempatan bagi Rahmon untuk penggunaan kekuatan dari dalam negerinya sendiri, yang akan membawanya lebih dekat dengan orang-orangnya sendiri, menurut Mirsaidov.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA