Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Mantan Presiden Abdelaziz Bouteflika Meninggal Dunia, Aljazair Kehilangan Sosok Pejuang Kemerdekaan dan Penentang Hegemoni AS

LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 18 September 2021, 09:33 WIB
Mantan Presiden Abdelaziz Bouteflika Meninggal Dunia, Aljazair Kehilangan Sosok Pejuang Kemerdekaan dan Penentang Hegemoni AS
Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika menghadiri sesi pembukaan KTT Forum Negara Pengekspor Gas pertama di Doha 15 November 2011/Net
Berita duka datang dari Aljazair. Mantan presidennya, Abdelaziz Bouteflika, yang terkenal karena perjuangannya untuk kemerdekaan negara itu dari Prancis, meninggal dunia di usia 84 tahun. Kabar tersebut disampaikan kepresidenan pada Jumat (17/9) waktu setempat.

Bouteflika, seorang veteran perang kemerdekaan Aljazair, mengabdikan hidupnya untuk mendamaikan negaranya yang dilanda konflik, tetapi terpaksa lengser di tengah protes pro-demokrasi pada 2019 setelah didesak massa yang turun ke jalan untuk menolak rencananya mencalonkan diri untuk masa jabatan kelima.

Bouteflika telah memerintah negara Afrika Utara itu selama dua dekade. Ia sebenarnya sudah jarang tampil di depan umum sejak stroke pada 2013.

Setelah pengunduran dirinya, pihak berwenang meluncurkan penyelidikan korupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara itu. Operasi tersebut berhasil memenjarakan beberapa pejabat senior, termasuk saudara dan penasihat Bouteflika yang kuat, Said. Said telah dipenjara selama 15 tahun atas tuduhan termasuk berkomplot melawan negara.

Setelah kemerdekaan Aljazair dari Prancis pada tahun 1962, Bouteflika menjadi menteri luar negeri pertama Aljazair dan tokoh berpengaruh dalam Gerakan Non-Blok yang memberikan suara global ke Afrika, Asia dan Amerika Latin.

Sebagai presiden Majelis Umum PBB, Bouteflika mengundang mantan pemimpin Palestina Yasser Arafat untuk berpidato di badan tersebut pada tahun 1974, sebuah langkah bersejarah menuju pengakuan internasional atas perjuangan Palestina.

Dia juga menuntut agar China diberi kursi di PBB, dan juga pernah mencerca pemerintahan apartheid di Afrika Selatan.

Bouteflika juga dikenang atas jasanya memperjuangkan negara-negara pasca-kolonial, menantang apa yang dia lihat sebagai hegemoni Amerika Serikat dan membantu negaranya menjadi benih idealisme tahun 1960-an.

Dia juga pernah menyambut Che Guevara, dan Nelson Mandela muda mendapatkan pelatihan pertamanya di Aljazair. Black Panther Eldridge Cleaver, dalam pelarian dari polisi AS, juga diberi perlindungan olehya.

Pada awal 1980-an, Bouteflika pergi ke pengasingan setelah kematian mantan Presiden Houari Boumediene dan menetap di Dubai, di mana ia menjadi penasihat anggota keluarga penguasa emirat.

Dia kembali ke rumah pada 1990-an ketika Aljazair sedang dilanda perang antara tentara dan militan Islam bersenjata yang menewaskan sedikitnya 200.000 orang.

Bouteflika bergabung dalam perang kemerdekaan melawan Prancis pada usia 19 tahun sebagai anak didik komandan Boumediene, yang menjadi presiden pada tahun 1965.

Setelah kemerdekaan, Bouteflika menjadi menteri pemuda dan pariwisata pada usia 25 tahun. Tahun berikutnya ia diangkat menjadi menteri luar negeri.

Pada 1999 ia terpilih sebagai presiden. Saat itulah ia berhasil merundingkan gencatan senjata dengan kelompok Islamis dan meluncurkan proses rekonsiliasi nasional yang memungkinkan negara itu memulihkan perdamaian.

Sedikit yang diketahui tentang kehidupan pribadinya, catatan resmi tidak menyebutkan istri, meskipun beberapa akun mengatakan pernikahan terjadi pada tahun 1990. Selama bertahun-tahun Bouteflika tinggal bersama ibunya, Mansouriah, di sebuah apartemen di Aljir, di mana dia biasa menyiapkan makanannya.

Bouteflika telah menggunakan pendapatan minyak dan gas untuk menenangkan ketidakpuasan internal, dan negara bagian yang dia pimpin menjadi lebih damai dan makmur, memungkinkannya untuk menghindari - untuk sementara - kerusuhan ‘Arab Spring’ yang menggulingkan para pemimpin di seluruh wilayah pada 2011.

Tetapi korupsi semakin berkembang dan warga Aljazair semakin marah pada kelambanan politik dan ekonomi, memicu protes massa yang akhirnya berujung pada penggulingan kekuasaan Bouteflika.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA