Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Perlakuan Istimewa Pakta AUKUS pada Australia Ikut Mempengaruhi Psikologis Jepang dan India

LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 18 September 2021, 10:46 WIB
Perlakuan Istimewa Pakta AUKUS pada Australia Ikut Mempengaruhi Psikologis Jepang dan India
Bendera anggota Quad/Net
Pakta AUKUS yang menjadi perbincangan panas belakangan ini, tidak hanya mempertanyakan posisi Selandia Baru dan Kanada sebagai anggota five eyes yang ternyata tidak diikutsertakan, tetapi juga akan menyeret nama India dan Jepang sebagai negara anggota Quad.

Pakta AUKUS dibentuk oleh Amerika untuk kesepakatan Australia, Inggris dan AS, di mana ketiga negara merupakan bagian dari Five Eyes. Dua negara lainnya tidak diikut sertakan.  

Selandia baru dan Kanada, meskipun mengaku tidak memiliki masalah besar setelah tidak dilibatkan dalam AUKUS, tetap memiliki kecanggungan. Ini terungkap dari komentar Perdana Menteri Jacinda Ardern yang mengaku tidak ada pendekatan soal pembicaraan pakta tersebut.

"Kami tidak didekati, saya juga tidak mengharapkan," kata Jacinda, yang menurut para ahli adalah kalimat yang menunjukkan sikap 'jaga jarak'.

Sementara itu, AS dan Australia juga termasuk dari negara-negara anggota Quadrilateral Security Dialogue atau yang juga dikenal sebagai Quad bersama India dan Jepang.

Lalu bagaimana India dan Jepang dalam menanggapi adanya Pakta Aukus?

Peneliti senior di Institut Studi Internasional China, Yang Xiyu, dalam opininya pada Jumat (17/9), berpendapat bahwa kesepakatan pembentukan kemitraan keamanan trilateral atau Paksa AUKUS (AS, Australia, dan Inggris) akan memberikan dampak psikologis yang besar bagi Jepang dan India. Ini beralasan karena, Australia nampaknya telah memenangkan beberapa 'perlakuan khusus' dari Washington dibandingkan dengan dua anggota Quad lainnya itu.

"Terbentuknya AUKUS menunjukkan bahwa meskipun ketiga negara tersebut semuanya berada di bawah kerangka Quad, namun posisi AS terhadap Australia sangat berbeda dengan posisi terhadap Jepang dan India," kata Yang.

"Pertama-tama, Australia adalah pusat Strategi Indo-Pasifik AS, dengan Samudra Hindia di baratnya dan Samudra Pasifik di timurnya. AS memiliki banyak pangkalan militer dan sekutu di belahan bumi utara, tetapi jaringan aliansi strategis globalnya di belahan bumi selatan tampaknya relatif lemah," lanjutnya.

Pakta AUKUS akan mendukung Australia dalam memperoleh kapal selam bertenaga nuklir dan memungkinkan patroli kapal selam bertenaga nuklirnya di kawasan Indo-Pasifik.

Kali ini, AS memanfaatkan AUKUS dan aliansi erat AS-Inggris untuk lebih memperkuat keunggulan politik Australia dalam jaringan aliansi AS. Baik India maupun Jepang tidak memiliki daya saing geopolitik seperti itu.

Yang mengatakan bahwa AS telah mencoba mengikat India.

"Tujuan utama Washington adalah untuk memperluas strategi Asia-Pasifiknya ke arah barat hingga Samudera Hindia. Namun, India tertarik dengan kebijakan Act East-nya," katanya.

Namun, kata Yang, meskipun Washington dan New Delhi mungkin memiliki kepentingan yang sama, kedua belah pihak juga masih memiliki perbedaan yang signifikan.

"Meskipun India telah mengikuti AS secara strategis dalam beberapa tahun terakhir, tampaknya AS telah berulang kali mengecewakan India. Beberapa orang India sudah mulai mempertanyakan apakah AS akan mendukung India tanpa syarat di saat yang kritis," kata Yang.

Dengan demikian, India tidak akan sepenuhnya berpaling ke pihak AS seperti Australia.

"Washington dan New Delhi memiliki kebutuhan politik yang berbeda. Bagaimanapun, India tidak ingin menjadi sekutu AS lainnya. Ia memiliki ambisi yang lebih besar - ia bahkan ingin menjadi 'AS lainnya'," kata Yang.

Adapun Jepang, aliansinya dengan AS bisa menjadi keuntungan.

Namun, Yang berpendapat, kondisi politik dan hukum dalam negeri Jepang tidak memenuhi kebutuhan AS.

Menurutnya, setelah berakhirnya Perang Dunia II, Jepang mengadopsi kebijakan senjata non-nuklir - sebuah kebijakan yang secara populer diartikulasikan sebagai Tiga Prinsip Non-Nuklir tentang kepemilikan, non-produksi, dan non-introduksi senjata nuklir.

Karena AUKUS akan berbagi teknologi inti dan intelijen, beberapa analis percaya bahwa AS mungkin fokus membantu Australia mengembangkan kekuatan militernya dan menjadikannya 'anjing penjaga' AS di Asia.

"Meskipun Jepang selalu bermimpi untuk memenangkan gelar ini, hal itu tidak memiliki kondisi praktis dan AS tidak memiliki keinginan seperti itu," kata Yang.

Menurutnya, AUKUS pasti akan mempengaruhi pilihan strategis Jepang dan India.

"Jepang, India dan Australia secara nominal adalah mitra setara AS di bawah kerangka Quad. Namun tiba-tiba AS menawarkan perlakuan khusus kepada Australia. Ini merupakan pukulan bagi India dan Jepang, meskipun kedua negara seharusnya tidak mengharapkan Washington untuk berbagi teknologi inti yang sensitif dengan mereka," katanya.

Dengan meluncurkan AUKUS, AS bertujuan untuk membangun fondasi yang lebih kokoh dan luas untuk Strategi Indo-Pasifiknya. Menurut visi AS, AUKUS dan Quad harus saling melengkapi.

"Washington ingin mengikat sekutunya dari belahan Timur dan Barat ke dalam Strategi Indo-Pasifik," kata Yang.

Tapi, menurut Yang, ini hanya angan-angan AS.

Dia mengatakan, secara obyektif, setidaknya di masa mendatang, pukulan psikologis AUKUS di Jepang dan India akan berlangsung untuk jangka waktu tertentu

"Pemerintah AS belum mencapai keseimbangan antara kepentingannya sendiri dan kepentingan sekutu dan mitranya. Dampak negatif AUKUS pada Quad dan AS sendiri akan lebih besar daripada dampak positifnya," kata Yang.

P:akta AUKUS juga telah mempotrakporandakan hubungan Australia dengan Prancis dan hubungan Amerika dengan Prancis.

Prancis mengecam Australia karena akibat dari Pakta AUKUS itu, Canberra membatalkan secara sepihak kontrak besar pembuatan kapal selan Nuklir yang telah diseoakati sejak 2016. Prancis juga menuding AS sebagai pihak 'pencetak' Pakta Aukus, yang telah dengan sengaja menusuknya dari belakang.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA