Children in the DPR Korea
Under the Leadership of Great Commanders
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Moon Jae-in di Sidang PBB: Korsel, Korut, AS, dan China Resmikan Deklarasi Berakhirnya Perang Korea 1950-1953

LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 22 September 2021, 15:43 WIB
Moon Jae-in di Sidang PBB: Korsel, Korut, AS, dan China Resmikan Deklarasi Berakhirnya Perang Korea 1950-1953
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in/Net
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in kembali menggemakan usulannya agar kedua Korea, Selatan dan Utara -, Amerika Serikat dan China mendeklarasikan akhir resmi Perang Korea 1950-1953.

Hal itu disampaikan Moon selama pidato di Sidang Umum PBB ke-76 di New York, Selasa (21/9). Itu menandai pidato terakhirnya di sesi tahunan PBB, dengan masa jabatan lima tahun tunggalnya dijadwalkan selesai pada awal Mei 2022.

“Saya mengusulkan agar tiga pihak dari dua Korea dan AS, atau empat pihak dari dua Korea, AS dan China datang bersama dan menyatakan bahwa Perang di Semenanjung Korea telah berakhir,” katanya, seperti dikutip dari Yonhap, Rabu (22/9).

“Ketika pihak-pihak yang terlibat dalam Perang Korea berdiri bersama dan mengumumkan berakhirnya Perang, saya yakin kita dapat membuat kemajuan yang tidak dapat diubah dalam denuklirisasi dan mengantarkan era perdamaian total,” lanjutnya.

Mendeklarasikan berakhirnya perang, kata Moon, akan menandai titik tolak penting dalam menciptakan tatanan baru 'rekonsiliasi dan kerja sama' di Semenanjung Korea.

Usulannya untuk deklarasi seperti itu bukanlah hal baru.Dia mengajukan tawaran itu selama pidato Majelis Umum PBB pada 2018 dan tahun lalu. Namun tawaran tahun ini disampaikan dengan nada yang lebih kuat dan lebih spesifik.

Dia meminta dunia untuk mencari cara kerja sama.

“Saya berharap masyarakat internasional, bersama dengan Korea, tetap selalu siap dan bersedia untuk menjangkau Korea Utara dalam semangat kerjasama,” katanya.

Dia juga menyerukan ‘pembukaan kembali dialog yang cepat’ antara kedua Korea dan antara AS dan Korea Utara.

“Saya berharap untuk melihat bahwa Semenanjung Korea akan membuktikan kekuatan dialog dan kerja sama dalam mendorong perdamaian,” kata Moon, mengutip serangkaian perjanjian antar-Korea serta kesepakatan KTT Pyongyang-Washington yang ditandatangani di Singapura pada 2018.

“Tahun ini, khususnya, menandai peringatan 30 tahun PBB menyetujui kedua Korea sebagai anggotanya secara bersamaan,” katanya.

Alih-alih membahas peluncuran uji coba rudal balistik dan jelajah Korea Utara baru-baru ini, Moon malah mengusulkan dimulainya kembali program antar-Korea untuk menyatukan kembali keluarga yang terpisah.

“Mengindahkan kerinduan keluarga yang terpisah, yang sudah lanjut usia, kita tidak boleh membuang waktu untuk mendesak reuni mereka,” katanya.

Dia menambahkan bahwa kedua Korea dapat bekerja sama dalam platform regional seperti Kerjasama Keamanan Kesehatan Asia Timur Laut, yang akan membuat mereka merespons penyakit menular dan bencana alam secara lebih efektif.

“Sebagai komunitas yang terikat oleh takdir bersama di Semenanjung Korea, dan sebagai anggota komunitas global, Selatan dan Utara, saya harap, akan bersatu untuk bergabung,” ujarnya.

Moon juga sempat menyinggung situasi yang terjadi di Afghanistan baru-baru ini, di mana ia menggambarkan itu sebagai ‘pengingat yang tajam’ akan peran penting PBB dalam memajukan perdamaian dan hak asasi manusia.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA