Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Whistleblower China: Covid-19 Sengaja Ditularkan Pertama Kali di Turnamen Militer Wuhan pada Oktober 2019

LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 24 September 2021, 22:05 WIB
Whistleblower China: Covid-19 Sengaja Ditularkan Pertama Kali  di Turnamen Militer Wuhan pada Oktober 2019
Pelaksanaan Military World Games di Wuhan pada Oktober 2019/Getty Images
Asal-usul munculnya virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang menjadi pandemi global sejak hampir dua tahun terakhir ini masih menjadi tanda tanya besar. Spekulasi dan rumor soal bagaimana kasus Covid-19 bisa pertama kali muncul pun terus berkembang.

Baru-baru ini seorang whistleblower China mengklaim bahwa negeri tirai bambu dengan sengaja menyebarkan Covid-19 pada momen turnamen militer yang digelar di Wuhan pada Oktober 2019, atau dua bulan sebelum China mengklaim kasus pertama Covid-19.

Sang whistleblower itu bernama Wei Jingsheng yang merupakan mantan orang dalam Partai Komunis China. Dalam sebuah wawancara dengan Sky News untuk kepentingan sebuah dokumenter berjudul "What Really Happened in Wuhan" baru-baru ini, Jingsheng mengatakan bahwa sekitar 9.000 atlet militer berkumpul untuk mengikuti turnamen internasional yang disebut dengan "Military World Games" di Wuhan pada Oktober 2019.

Dia menyebut, bukan kebetulan semata bahwa beberapa orang dari atlet tersebut kemudian ada yang dilaporkan jatuh sakit dengan penyakit misterius. Bisa jadi ajang tesebut merupakan acara superspreader pertama Covid-19 di dunia.

"Saya pikir pemerintah China akan mengambil kesempatan ini untuk menyebarkan virus selama Pertandingan Militer, karena banyak orang asing akan muncul di sana," ujar Jingsheng, sebagaimana dikabarkan ulang Daily Mail pada Rabu (22/9).

Jingsheng mengklaim dia telah mendengar pemerintah China melakukan latihan yang tidak biasa selama pertandingan.

"(Saya tahu) kemungkinan pemerintah China menggunakan beberapa senjata aneh, termasuk senjata biologis, karena saya tahu mereka pernah melakukan eksperimen semacam itu," jelasnya.

Meski kebenaran akan klaimnya tersebut masih harus diverifikasi lebih jauh, namun bukan berarti juga klaim itu bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, klaimnya didukung oleh sejumlah pihak.

Mantan Penasihat Utama China untuk Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Miles Yu mengatakan bahwa atlet Prancis, Jerman dan Amerika Serikat termasuk di antara mereka yang jatuh sakit di turnamen tersebut dengan gejala seperti Covid-19. Namun mereka tidak pernah diuji akan Covid-19.

Sementara itu, mantan penyelidik Covid-19 Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, David Asher juga melihat ada indikasi bahwa Covid-19 menyebar lebih awal daripada laporan resmi.

"Kami melihat beberapa indikasi dalam data kami sendiri, bahwa ada Covid-19 yang beredar di Amerika Serikat pada awal Desember, mungkin lebih awal dari itu," kata Asher.

Sementara itu, Jingsheng juga mengklaim bahwa dia pernah menyampaikan keprihatinannya tentang situasi yang sedang berlangsung kepada tokoh-tokoh senior dalam pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada November 2019, namun diabaikan.

Jingsheng yang merupakan juru kampanye demokrasi lama dan telah menjalani hukuman penjara karena kegiatan kontra-revolusioner itu menambahkan bahwa dirinya melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh top Amerika Serikat semasa pemerintahan Trump karena mulai muncul desas-desus tentang virus SARS baru yang beredar di platform media sosial China seperti WeChat.

"Saya merasa mereka tidak peduli seperti saya, jadi saya mencoba yang terbaik untuk memberikan lebih banyak detail dan informasi," katanya.

"Mereka mungkin tidak percaya bahwa pemerintah suatu negara akan melakukan hal seperti itu (menutupi virus), jadi saya terus mengulanginya dalam upaya untuk membujuk mereka," sambung Jingsheng.

Dia juga menekankan bahwa rezim Xi Jinping berusaha mati-matian untuk menutup mulut para whistleblower dan membungkam setiap diskusi tentang virus pada tahap awal wabah Wuhan, bahkan ketika jumlah mayat yang tak terhitung mulai membanjiri rumah sakit kota.

Bukan hanya itu, setiap referensi yang dibuat di media sosial tentang virus SARS baru atau wabah pun disensor. Staf medis yang berani mencoba berbicara dan memperingatkan dunia soal munculnya virus baru juga ditahan dan dipaksa untuk menandatangani pengakuan palsu yang menimbulkan kepanikan.

Jingsheng yang diasingkan ke Amerika Serikat beberapa tahun sebelumnya itu mengatakan dia mengetahui apa yang terjadi di lapangan saat itu melalui informasi orang dalam Partai Komunis China yang berbagi ketakutan mereka tentang situasi dan menggambarkan bahwa pemerintah pusat menutup-nutupi.

Jingsheng menyayangkan bahwa peringatannya pada saat itu tidak ditanggapi dengan serius. Dia tidak menyebutkan siapa tokoh top yang dia ajak bicara soal virus baru di China pada saat itu, namun dia bersikeras bahwa tokoh itu merupakan salah satu "telinga" Trump pada saat itu.

"Dia adalah seorang politisi yang cukup tinggi, cukup tinggi untuk dapat mencapai Presiden Amerika Serikat," jelasnya.

Jika apa yang Jingsheng utarakan itu benar adanya, maka China telah menutup-nutupi kasus pertama selama setidaknya dua bulan. Pasalnya, China baru melapor kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) soal kasus pertama Covid-19 pada 31 Desember 2019 di Wuhan. Pada saat itu, penyakit itu disebut "pneumonia misterius".

Meskipun demikian, awalnya Beijing membantah virus itu dapat ditularkan dari orang ke orang, hingga akhir Januari.

WHO pada saat itu menyebut wabah misterius itu sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional pada 30 Januari 2020, ketika infeksi mulai melanda negara-negara lain termasuk Amerika Serikat pada bulan yang sama.

Asal-mula virus corona baru itu pun masih menjadi misteri besar hingga saat ini. Bulan Agustus lalu, Dr Peter Embarek, yang memimpin penyelidikan WHO tentang asal mula pandemi virus corona di China, mengatakan bahwa pasien Covid-19 pertama di dunia mungkin telah terinfeksi oleh kelelawar saat bekerja di laboratorium Wuhan di China.

Embarek membuat klaim mengejutkan itu meskipun pada awalnya dia menolak anggapan bahwa virus itu bocor dari laboratorium di Wuhan. Namun kemudian, Embarek mengakui bahwa teori kebocoran laboratorium bisa saja terjadi. Dia menunjukkan bahwa seorang peneliti China bisa saja terinfeksi oleh kelelawar saat mengambil sampel sehubungan dengan penelitian di laboratorium Wuhan.

Beberapa orang berpendapat bahwa sumber virus itu adalah Institut Virologi Wuhan, sebuah laboratorium China yang merupakan pusat penelitian virus corona terbesar di dunia.

Banyak pihak yang meyakini bahwa virus itu ditemukan di laboratorium, yang mengumpulkan virus corona dari hewan liar, atau direkayasa melalui penelitian "gain of function". Penelitian semacam itu melibatkan penambahan sifat seperti peningkatan penularan ke virus yang sudah ada untuk mempelajari efeknya dan mengembangkan pengobatan sebelum penyakit tersebut muncul di alam liar.

Tetapi penelitian ini sangat kontroversial, dengan banyak ilmuwan berpendapat bahwa risiko menciptakan virus semacam itu jauh lebih besar daripada potensi manfaatnya.

Menurut para pendukung teori ini, virus kemudian bocor dari laboratorium, mungkin dengan menginfeksi staf yang kemudian tanpa disadari menyebarkannya ke populasi umum.

Teori ini didukung oleh laporan intelijen yang diteruskan ke badan-badan di Washington yang menyebut bahwa ada tiga anggota staf di laboratorium tersebut yang mencari perawatan di rumah sakit pada November 2019, sebulan sebelum kasus resmi Covid-19 pertama terdeteksi.

Laporan yang dipublikasikan oleh Wall Street Journal itu menyebutkan bahwa gejala mereka konsisten dengan Covid-19 dan penyakit musiman yang umum. Banyak yang meyakini bahwa Covid-19 mungkin telah beredar selama berbulan-bulan sebelum China pertama kali melaporkannya ke dunia, baik sebagai akibat dari penyakit ringan yang tidak terdeteksi, atau akibat ditutup-tutupi.

Para ilmuwan di Italia mengklaim telah mendeteksi bukti Covid-19 dalam sampel darah yang diambil sejauh September 2019. Sementara para peneliti di Spanyol mengatakan penyakit itu bisa saja ada di sana pada Januari 2020.

ARTIKEL LAINNYA