Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

FBI Akui Beli Spyware Pegasus, tapi Bukan untuk Digunakan

LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Kamis, 03 Februari 2022, 16:56 WIB
FBI Akui Beli Spyware Pegasus, tapi Bukan untuk Digunakan
Ilustrasi/Net
Biro Investigasi Federal (FBI) mengakui adanya pengadaan untuk spyware atau alat mata-mata Pegasus dari perusahaan Israel, NSO Group.

Kendati begitu, seperti dikutip The Week pada Kamis (3/2), FBI menyebut pengadaan alat tersebut bukan untuk digunakan, melainkan untuk diuji.

Dalam dalihnya, FBI mengatakan mereka menguji Pegasus dengan lisensi terbatas untuk tetap mengikuti perkembangan teknologi dan perdagangan.

Mereka menyebut tidak menggunakan Pegasus untuk penyelidikan, dan evaluasi yang dilakukan terkait dengan masalah keamanan jika alat tersebu jatuh ke tangan yang salah.

Dari laporan New York Times, pengadaan Pegasus terjadi pada 2019, di bawah pemerintahan Donald Trump. Menurut seorang sumber, kesepakatan terjadi setelah proses yang panjang.

Pengakuan dari FBI itu muncul di tengah skandal Pegasus yang menggemparkan dunia lantaran alat tersebut diduga telah digunakan banyak pihak untuk memata-matai.

NSO beralasan teknologinya dimaksudkan untuk membantu menangkap teroris, pedofil, dan penjahat kelas kakap.

Namun pada pertengahan tahun lalu, sejumlah media dan organisasi mengungkap skandal Pegasus.

Dilaporkan, alat tersebut telah meretas setidaknya 50 ribu nomor telepon di berbagai negara, mayoritas miliki politisi terkemuka, aktivis HAM, pengacara, jurnalis, hingga eksekutif bisnis.

Di antara mereka yang masuk dalam daftar target adalah Macron, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Irak Barham Salih, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly, Perdana Menteri Maroko Saad-Eddine El Othmani, mantan Perdana Menteri Belgia, dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel.

ARTIKEL LAINNYA