Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Diplomat Top Rusia: Mengenai Penggunaan Senjata Nuklir, Saya Harap Tuhan Tidak Mengizinkan

LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 02 Maret 2022, 00:44 WIB
Diplomat Top Rusia: Mengenai Penggunaan Senjata Nuklir, Saya Harap Tuhan Tidak Mengizinkan
Perwakilan tetap Rusia di PBB, Vasily Nebenzya/Net
Perang nuklir akan menjadi bencana besar bagi kemanusiaan. Karena itulah Rusia berharap agar situasi yang berkembang di Ukraina saat ini tidak akan berubah menjadi seperti itu.

Begitu kata perwakilan tetap Rusia di PBB, Vasily Nebenzya saat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai apakah serangan nuklir akan terjadi atau tidak. Dia memberikan komentar pada konferensi pers di PBB pada hari Senin (28/2).

“Mengenai penggunaan senjata nuklir, saya harap Tuhan tidak mengizinkan ini,” katanya.

Senada dengan komentar itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa tidak akan ada pemenang jika perang nuklir terjadi.

Pernyataan itu dia buat saat berbicara pada konferensi perlucutan senjata Jenewa melalui sambungan video.

“Tidak dapat diterima bagi kami bahwa, bertentangan dengan ketentuan mendasar dari Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir, persenjataan atom Amerika Serikat masih berada di wilayah beberapa negara Eropa,” ujarnya, seperti dimuat Russia Today.

Dia juga menuduh Kiev mengancam akan melanggar status non-nuklirnya. Lavrov mengatakan bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh rezim Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ke negara-negara tetangga dan keamanan internasional telah meningkat secara signifikan setelah otoritas Kiev memainkan permainan berbahaya terkait dengan rencana untuk memperoleh senjata nuklir mereka sendiri.

Sebelumnya pada akhir pekan kemarin, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan penempatan unit darat negara itu, yang dilengkapi dengan rudal balistik antarbenua, serta kapal dari Armada Utara dan Pasifik, dalam siaga tempur tinggi.

Dia menjelaskan keputusan itu muncul setelah "sanksi tidak sah" diterapkan terhadap Moskow dan pernyataan agresif yang datang dari pejabat Amerika Serikat dan Uni Eropa.

ARTIKEL LAINNYA