Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Pertama Kali dalam Sebelas Tahun Presiden Suriah Kunjungi UEA, Washington: Kami Kecewa dan Terganggu

LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 19 Maret 2022, 08:51 WIB
Untuk pertama kalinya sejak 2011, Presiden Suriah Bashar al-Assad melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab pada Jumat (18/3) waktu setempat.

Di UEA Assad bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan yang menekankan bahwa Suriah adalah pilar fundamental keamanan Arab, dan bahwa UEA ingin memperkuat kerja sama dengannya.

Kunjungan itu mendapat teguran keras dari Washington. Departemen Luar Negeri bahkan mengatakan pihaknya "sangat kecewa dan terganggu" dengan apa yang disebutnya sebagai upaya nyata untuk melegitimasi Assad.

Selain bertemu dengan Sheikh Mohammed bin Zayed, Assad juga bertemu dengan penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, kata kepresidenan Suriah dalam sebuah pernyataan.

WAM mengatakan kedua pihak menekankan "pemeliharaan integritas wilayah Suriah dan penarikan pasukan asing" dari negara yang terfragmentasi di mana Rusia, Iran, Turki dan Amerika Serikat semuanya memiliki kehadiran militer.

Mereka juga membahas dukungan politik dan kemanusiaan untuk Suriah dan rakyatnya untuk mencapai solusi damai untuk semua tantangan yang dihadapinya, WAM melaporkan.

WAM mengatakan Sheikh Mohammed menyatakan keinginannya bahwa kunjungan ini akan membuka jalan bagi kebaikan, perdamaian dan stabilitas untuk menang di Suriah dan seluruh wilayah.

"Assad menjelaskan kepadanya tentang perkembangan terakhir di Suriah," katanya.

Perjalanan Assad ke UEA bertepatan dengan peringatan sebelas tahun pemberontakan Suriah, yang dimulai pada Maret 2011, dan pada saat Washington telah bekerja di seluruh dunia untuk menyatukan sekutu dan mitra melawan invasi Rusia ke Ukraina.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price menegaskan kembali bahwa Washington tetap menentang upaya untuk menormalkan hubungan atau merehabilitasi Assad.

Dia mengatakan Amerika Serikat tidak akan melepaskan atau mencabut sanksi terhadap Suriah kecuali ada kemajuan menuju solusi politik untuk konflik tersebut, yang telah menewaskan ratusan ribu orang sejak bangkit dari pemberontakan melawan Assad.

"Kami mendesak negara-negara yang mempertimbangkan keterlibatan dengan rezim Assad untuk menimbang dengan hati-hati kekejaman mengerikan yang dikunjungi oleh rezim terhadap Suriah selama dekade terakhir, serta upaya berkelanjutan rezim untuk menolak sebagian besar akses negara ke bantuan kemanusiaan dan keamanan," kata Price, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (19/3).

Washington telah menyatakan keprihatinannya pada November ketika menteri luar negeri UEA mengunjungi Damaskus dan bertemu Assad.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA