On The Road of Devoted Service for the People
On The Road of Devoted Service for the People
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Utusan Presiden AS: Indonesia Harus Lebih Serius dalam Transisi Energi

LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Sabtu, 23 April 2022, 13:13 WIB
Utusan Presiden AS: Indonesia Harus Lebih Serius dalam Transisi Energi
Delegasi Kadin Indonesia melakukan pertemuan dengan utusan Presiden Amerika Serikat di Washington DC/Ist
Substitusi atau konversi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berusia tua menjadi salah satu strategi Kemeterian Energi dan Sumber Daya (ESDM) dalam upaya mengakselerasi pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT).

Selain berdampak pada lingkungan, PLTU yang sudah tua juga sudah tidak maksimal dalam operasional sehingga cost production energi menjadi lebih mahal.

Utusan Khusus Presiden AS Bidang Iklim, John Kerry pun mengingatkan Indonesia agar lebih hati-hati dalam program konversi PLTU. Hal itu ia sampaikan saat pertemuan dengan delegasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Washington DC.

John Kerry mengatakan, Indonesia memiliki momentum percepatan transisi energi lantaran menjadi tuan rumah G20.

"Ini kesempatan emas buat Indonesia yang tengah menjadi Presidensi G20/B20 untuk mencari dukungan dunia atau dilupakan sama sekali," ujar John Kerry seperti dikutip Ketua Komite Tetap EBT Kadin Indonesia, Muhammad Yusrizki dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/4).

Dalam pertemuan itu, delegasi Kadin dipimpin Ketua Umum Arsjad Rasjid dan didampingi Ketua B20, Shinta Widjaja Kamdani. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari Roadshow B20 yang dilakukan Kadin Indonesia ke Washington DC dan New York, Amerika Serikat, serta Ottawa, Kanada.

Merespon apa yang disampaikan John Kerry, Yusrizki yang juga Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) mengatakan, dunia usaha memiliki tanggung jawab yang sama dengan Pemerintah dalam memastikan tercapainya Net Zero Emisi di 2060.

Ia mengatakan, negara-negara maju tidak boleh hanya sekadar meminta atau mendorong negara-negara berkembang untuk melakukan transisi energi.

"(Negara-negara maju) juga harus berkontribusi nyata dalam upaya transisi energi itu. Baik dalam hal teknologi, pengetahuan, maupun pembiayaan," ujar Yusrizki.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA