Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Perang Rusia Bikin Xi Jinping Tak Tenang Sampai Harus Hitung Ulang Ambisi Menyerang Taiwan

LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 09 Mei 2022, 12:23 WIB
Perang Rusia Bikin Xi Jinping Tak Tenang Sampai Harus Hitung Ulang Ambisi Menyerang Taiwan
Presiden China Xi Jinping/Net
Berbagai peristiwa termasuk sanksi yang dialami Rusia dalam perangnya melawan Ukraina dilaporkan telah ikut mempengaruhi China sebagai sekutu dekatnya, terutama terkait ambisi Beijing untuk menguasai Taiwan.

Kepala Badan Intelijen Pusat AS (CIA), Bill Burns, bahkan mengatakan konflik di Ukraina telah membuat Presiden China Xi Jinping merasa tidak tenang.

Kepala agen mata-mata AS itu mengatakan di acara yang diselenggarakan Financial Times di Washington bahwa pejabat tinggi China terkejut dengan "pengalaman pahit" dari dua bulan pertama perang.

Dan, kata Burns, sebagai akibat dari perlawanan sengit Ukraina dan kejatuhan ekonomi global sejak invasi, Beijing mungkin menghitung ulang tujuannya untuk Taiwan.

“Ini mengejutkan kami, bahwa Xi Jinping sedikit gelisah oleh kerusakan reputasi yang dapat datang ke China oleh asosiasi dengan kebrutalan agresi Rusia terhadap Ukraina (dan) tentu saja gelisah oleh ketidakpastian ekonomi yang dihasilkan oleh perang,” kata Burns, seperti dikutip dari AP, Senin (9/5).

"Jelas kepemimpinan China sedang mencoba untuk melihat dengan hati-hati pelajaran apa yang harus mereka ambil dari Ukraina tentang ambisi mereka sendiri dan Taiwan," ujarnya.

Burns mengatakan China juga khawatir dengan fakta bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah mendorong orang Eropa dan Amerika lebih dekat dengan keputusannya menginvasi Ukraina.

"China sedang memeriksa dengan cermat pelajaran apa yang harus mereka ambil untuk Taiwan," katanya.

Namun demikian, Burns mengatakan jalannya perang tidak menghalangi kepemimpinan China dari tujuan akhir mereka untuk mendapatkan kendali atas Taiwan, meskipun itu mempengaruhi perhitungan mereka.

China dan Rusia telah tumbuh semakin dekat di bawah Putin dan Xi, menyelaraskan kebijakan luar negeri mereka bertentangan dengan tatanan dunia liberal Barat.

Keduanya juga terkait erat secara ekonomi, dengan China menjadi mitra dagang terbesar Rusia dan pasar ekspor penting untuk gas alam dan minyaknya.

China telah abstain dalam pemungutan suara di PBB yang mengutuk tindakan Rusia, dan, sesuai dengan kebijakan standar, sangat menentang sanksi ekonomi terhadap Rusia.

Pada saat yang sama, China tidak menunjukkan tanda-tanda meremehkan sanksi tersebut atau bergegas mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kepergian perusahaan-perusahaan Barat dari Rusia.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA