Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Virus Mematikan Ditemukan di Ghana, Apa yang Perlu Kita Ketahui Dari Virus Marburg?

LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Selasa, 19 Juli 2022, 12:40 WIB
Virus Mematikan Ditemukan di Ghana, Apa yang Perlu Kita Ketahui Dari Virus Marburg?
Ilustrasi/Net
Setelah pandemi virus Covid-19 dan maraknya kasus cacar monyet, kini dunia semakin resah setelah munculnya virus Marburg yang dilaporkan sangat menular dan mematikan. Virus tersebut terdeteksi baru-baru ini di Ghana, Afrika Barat, dua pasien yang terinfeksi dilaporkan meninggal dunia.

Apa itu virus Marburg?

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, virus Marburg adalah penyakit demam berdarah akibat penularan virus yang mirip dengan Ebola namun sama-sama tidak memiliki vaksin.

"Virus Marburg merupakan RNA zoonosis yang unik secara genetik dari keluarga filovirus. Enam spesies virus Ebola adalah satu-satunya anggota keluarga filovirus," jelasnya.

Menurut WHO, tingkat kematian akibat virus Marburg berkisar antara 24% hingga 88 persen, bergantung pada jenis virus dan kualitas manajemen kasus.

Berbeda dengan Corona, Marburg bukanlah penyakit yang ditularkan melalui udara. Virus ini, disinyalir berasal dari para pekerja tambang yang terpapar langsung dengan koloni kelelawar buah Rousettus Afrika yang membawa virus tersebut.

Setelah seseorang terinfeksi, virus dapat menyebar dengan mudah melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi seperti darah, air liur atau urin, serta pada permukaan dan bahan yang disentuh.

Kerabat dan petugas kesehatan menjadi yang paling rentan tertular karena berada dekat dengan tubuh pasien, bahkan ketika tubuh dimakamkan virus Marburg tetap dapat menular.

Di mana Marburg terdeteksi?

CDC melaporkan kasus pertama virus teridentifikasi di Eropa pada 1967. Dua wabah besar di Marburg dan Frankfurt, Jerman, serta di Beograd, Serbia, yang menyebabkan pengenalan awal penyakit tersebut.

Kasus Ghana adalah yang kedua kali Marburg terdeteksi di Afrika Barat. Kasus pertama dilaporkan terjadi di Guinea tahun lalu.

Kasus Marburg sebelumnya telah dilaporkan di tempat lain di Afrika, termasuk di Uganda, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Afrika Selatan dan Zimbabwe. Wabah terbesar telah menewaskan lebih dari 200 orang di Angola pada 2005.
 
CDC menyatakan bahwa  Virus ini jarang terjadi di luar wilayah Afrika. Namun, pada tahun 2008, seorang wanita Belanda meninggal karena penyakit Marburg setelah mengunjungi gua terkenal di taman nasional Uganda yang dihuni kelelawar buah.

Apa saja gejalanya?

Menurut WHO, penyakit ini terjadi secara tiba-tiba dengan gejala demam tinggi, sakit kepala parah dan malaise (nyeri otot dan nyeri kram).

Di Ghana, dua orang yang meninggal akibat virus Marburg, mengalami gejala seperti diare, demam, mual dan muntah.

"Kasus pertama, Pri berusia 26 tahun yang masuk rumah sakit pada 26 Juni dan meninggal sehari kemudian. Kasus kedua menimpa seorang pria berusia 51 tahun yang pergi ke rumah sakit pada 28 Juni dan meninggal pada hari yang sama," jelas WHO.

Dalam kasus yang fatal, kematian biasanya terjadi antara delapan dan sembilan hari setelah timbulnya penyakit dan didahului oleh kehilangan darah yang parah dan disfungsi multi-organ.

CDC mengungkapkan bahwa diagnosis klinis Marburg bisa jadi sulit karena banyak gejala yang mirip dengan penyakit menular lainnya seperti malaria atau demam tifoid. Namun pada hari kelima terinfeksi Marburg, biasanya akan ada ruam yang tidak gatal pada dada, punggung, atau perut.

Bisakah Marburg diobati?

Sama halnya dengan Ebola, tidak ada vaksin atau perawatan antivirus yang disepakati untuk mengobati virus Marburg.

Namun, perawatan yang mendukung dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup seperti rehidrasi dengan cairan oral atau intravena, mempertahankan kadar oksigen, menggunakan terapi obat dan mengobati gejala spesifik yang muncul.

Beberapa ahli kesehatan mengatakan obat yang mirip dengan yang digunakan untuk Ebola bisa jadi efektif.

"Beberapa pengobatan eksperimental untuk Marburg telah diuji pada hewan tetapi belum pernah dicoba pada manusia," kata CDC.

WHO mengatakan minggu ini pihaknya akan mengerahkan para ahli serta mendukung tim investigasi nasional gabungan di Ghana untuk mengirimkan peralatan pelindung pribadi, memperkuat pengawasan penyakit dan melacak kontak dalam menanggapi beberapa kasus.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA