Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Biaya Produksi Melonjak, Produsen Mie Instan Thailand Tuntut Kenaikan Harga

LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 17 Agustus 2022, 06:42 WIB
Biaya Produksi Melonjak, Produsen Mie Instan Thailand Tuntut Kenaikan Harga
Ilustrasi/Net
Biaya produksi yang melonjak tinggi memicu lima produsen mie instan terbesar Thailand melakukan protesnya kepada Kementerian Perdagangan. Kelimanya juga meminta agar Kementerian mengizinkan mereka menaikkan harga.

Lima produsen mie instan tersebut terdiri dari Thai President Foods Plc, Thai Preserved Food Factory Co, Wan Thai Foods Industry Co, Nissin Foods (Thailand), dan Chokchaipibul.

Mereka meminta kenaikan harga mi instan dari 6 baht (2.500 rupiah) per bungkus menjadi 8 baht (3.300 rupiah).

Manajer kantor presiden di Thai President Foods, Pun Paniangvait, menyarankan agar kelima perusahaan itu menyerahkan surat yang ditandatangani oleh seorang eksekutif tinggi dari perusahaan masing-masing ke Departemen Perdagangan Internal di bawah Kementerian Perdagangan untuk mengajukan permohonannya.

Bangkok Post melaporkan, kelima perusahaan itu sebelumnya telah berupaya menaikkan harga sejak pertengahan tahun lalu menyusul melonjaknya harga bahan baku utama yang digunakan untuk memproduksi mi, seperti minyak sawit dan gandum.

Harga minyak sawit diklaim meroket tiga kali lipat menjadi 60 baht (24.900 rupiah) per kilogram, sementara harga gandum naik 20-30 persen tahun-ke-tahun.

Menurut Pun, harga produk pertanian lainnya seperti bawang putih dan cabai juga naik 8-35 persen, sedangkan harga bahan baku lainnya seperti kemasan dan plastik naik 12-15 persen.

Kenaikan biaya bahan baku yang berkelanjutan membuat produsen mie instan mengalami kerugian besar. Beberapa merek besar akhirnya mengalihkan fokus mereka untuk berekspansi ke negara lain di mana mereka diizinkan untuk menyesuaikan harga produk mereka sesuai dengan biaya operasional yang lebih tinggi.

"Ekspansi ke luar negeri membantu mengimbangi kerugian dari pasar domestik," kata Pun. "Kami memandang penting bagi produsen untuk meningkatkan ekspansi bisnis di pasar luar negeri daripada pasar lokal."

Jika produsen besar mengalihkan pasarnya ke luar negeri, "Keadaan ini dapat mengakibatkan kekurangan mi instan di pasar domestik untuk beberapa waktu," lanjut Pun.

Asisten direktur pelaksana Thai Preserved Food Factory Co, Veera Napapruksachart, mengatakan perusahaannya juga menderita selama beberapa bulan di kuartal pertama tahun ini.

Untuk tetap bertahan, perusahaannya telah mengurangi pengeluaran untuk promosi dan menurunkan produksi beberapa rasa yang terimbas dengan kenaikan biaya bahan baku. Perusahaan juga lebih fokus memproduksi mi instan untuk ekspor.

"Kami tidak hanya produsen Wai Wai tetapi juga distributor Wai Wai, jadi kami juga menderita dari logistik dan harga minyak," kata Veera.

Kittiphot Chanthavornkij, wakil presiden Wan Thai Foods Industry Co, mengatakan dengan kenaikan harga gandum dan terus meningkatnya biaya bahan baku, mie produksinya telah bergeser untuk meningkatkan ekspor sejak tahun lalu.

Hal senada diungkapkan Fukuoka Hijiri, direktur pelaksana Nissin Foods (Thailand) Co. Ia mengatakan bahwa dirinya merasa sangat prihatin dengan prospek penjualan perusahaan setelah pihak berwenang menolak beberapa permintaan untuk menaikkan harga yang diajukan sebelumnya.

Direktur Jenderal Departemen Perdagangan Internal Wattanasak Sur-iam merespon keluhan para produsen dengan mengatakan departemennya telah mengakui dan menindaklanjuti situasi tersebut.

Ia mengakui biaya bahan baku tertentu untuk mie instan telah meningkat secara substansial, terutama biaya energi dan bahan baku utama seperti tepung terigu. Kenaikan tersebut didorong oleh dampak pandemi Covid-19 dan krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina.

"Kami siap mempertimbangkan permintaan produsen mi instan, namun persetujuannya bisa berbeda-beda, tergantung biaya masing-masing perusahaan," ujarnya.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA