Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Partai Komunis China akan Gelar Kongres 16 Oktober, Xi Jinping Tampil Sebagai Presiden Tiga Periode

LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Selasa, 30 Agustus 2022, 21:22 WIB
Partai Komunis China akan Gelar Kongres 16 Oktober, Xi Jinping Tampil Sebagai Presiden Tiga Periode
Partai Komunis China/Net
Partai Komunis China (PKC) telah mengumumkan tanggal Kongres mereka, yang akan dimulai pada 16 Oktober mendatang. Selama Kongres kali ini, Presiden Xi Jinping akan berusaha mengamankan masa jabatannya yang ketiga.

Politbiro PKC pada Selasa (30/8) mengumumkan Kongres PKC ke-20 akan digelar secara tertutup di Aula Besar Rakyat di Beijing.

Pada umumnya, pertemuan akan dilakukan selama sepekan. Nantinya akan dipilih dan diresmikan anggota baru Komite Tetap Politbiro PKC yang diumumkan di media.

Diperkirakan akan ada sekitar 2.300 delegasi di seluruh negeri yang menghadiri pertemuan tersebut.

Kongres akan didahului oleh sidang pleno ketujuh dari Komite Sentral PKC ke-19, yang akan diadakan pada tanggal 9 Oktober di Beijing.

“Kongres akan membahas kerja partai selama lima tahun terakhir, serta pencapaian besar dan pengalaman berharga dari komite pusat partai dengan kamerad Xi Jinping sebagai intinya dalam menyatukan dan memimpin seluruh partai dan rakyat China," tulia kantor berita resmi Xinhua.

Selain itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah China, Xi sebagai Sekretaris Jenderal PKC akan muncul sebagai pemimpin tertinggi China untuk lima tahun ke depan.

Masa jabatan ketiga untuk presiden dimungkinkan ketika partai menghapus kebijakan dua periode selama kongres terakhir pada 2017, dan diresmikan pada Maret 2018.

Kongres kali ini, di mana Xi masih tetap memimpin, akan memilih susunan pemimpin baru untuk kebijakan dalam dan luar negeri China selama lima tahun ke depan.

Xi kemungkinan akan melaju ke masa jabatan ketiganya meskipun ada beberapa tantangan yang dihadapi China, termasuk ekonomi yang lesu akibat pandemi Covid-19, dan kekeringan parah selama beberapa waktu terakhir. Ia juga menghadapi kritik internasional yang kuat atas Taiwan, Hong Kong, dan kebijakannya di Tibet dan Xinjiang.

ARTIKEL LAINNYA