Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Armenia-Azerbaijan Memanas, PM Nikol Pashinyan Telepon Putin dan Macron

LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 13 September 2022, 11:34 WIB
Armenia-Azerbaijan Memanas, PM Nikol Pashinyan Telepon Putin dan Macron
Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron/Net
Pasukan Armenia dan Azerbaijan kembali terlibat gesekan di beberapa wilayah perbatasan pada Selasa dini hari (13/9) waktu setempat, yang dikatakan pihak Yerevan dimulai dengan tindakan provokatif Baku.

Untuk membahas eskalasi tersebut, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan langsung menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Mengutip keterangan kantor Perdana Menteri di Yerevan, AFP melaporkan bahwa dalam panggilan telepon terpisahnya, Pashinyan memberi tahu Putin dan Macron tentang tindakan provokatif dan agresif angkatan bersenjata Azerbaijan terhadap wilayah kedaulatan Armenia, yang dimulai pada tengah malam.

"Ia juga menekankan pentingnya tanggapan yang memadai dari komunitas internasional,” isi keterangan kantor Perdana Menteri.

Kementerian Pertahanan Armenia mengklaim bahwa infrastruktur militer dan sipil di Sotk, Vardenis, Goris, Kapan, Artanish dan Ishkhanasar telah ditembaki, dan ada laporan mengenai korban.

"Klaim Azerbaijan bahwa penembakan itu dimulai oleh Armenia adalah sepenuhnya salah," tambah Yerevan.

Sebelumnya Kementerian pertahanan Azerbaijan menuduh Armenia melakukan sabotase atas jalan pertambangan dan infrastruktur di sisi perbatasan Azeri selama akhir pekan, menyebabkan jumlah korban militer yang tidak ditentukan. Baku juga mencela laporan tentang "invasi skala penuh" oleh Azerbaijan ke wilayah Armenia sebagai berita bohong.

Media Armenia melaporkan bahwa Rusia telah menengahi gencatan senjata yang akan dimulai pada 02:30 waktu setempat, tetapi Azerbaijan membantahnya.

Hingga saat ini pertempuran dilaporkan sedang berlangsung.

Armenia dan Azerbaijan telah berselisih sejak mereka mendeklarasikan kemerdekaan dari Uni Soviet, terutama atas Nagorno Karabakh – yang berada di dalam Azerbaijan tetapi memiliki populasi etnis mayoritas Armenia.

Orang-orang Armenia menang pada awal 1990-an, membangun kendali atas sebagian besar kantong dan wilayah yang menghubungkannya dengan Armenia.
Pada September 2020 , Baku meluncurkan kampanye untuk merebut kembali wilayah tersebut, dengan bantuan drone yang dipasok Turki. Perang pun pecah, hingga ribuan nyawa melayang.

Gencatan senjata yang ditengahi oleh Moskow menghasilkan kesepakatan yang isinya bahwa beberapa wilayah harus dilepaskan dari Armenia dengan perlindungan dari penjaga perdamaian Rusia.

Rusia dan Prancis menjadi penengah pertikaian kedua negara tersebut.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA