Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Xi Jinping dan Putin Bertemu, Erat dan Hangat tanpa Jarak

LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 16 September 2022, 06:42 WIB
Xi Jinping dan Putin Bertemu, Erat dan Hangat tanpa Jarak
Presiden Xi Jinping berjabatan tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT SCO di Uzbekistan, Kamis 15 September 2022/Repro
Keakraban terlihat dalam pertemuan dua pemimpin yang telah lama bersahabat, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang dilangsungkan di Uzbekistan. 

Ini adalah pertemuan kedua antara Xi dan Putin pada tahun ini, setelah terakhir bertemu di Olimpiade Musim Dingin di Beijing pada Februari lalu.
Kedua berjabat tangan erat tanpa jarak, bahkan tanpa mengenakan masker.

Keduanya saling menyapa, untuk kemudian larut dalam percakapan serius tentang banyak hal, antara lain perang Ukraina, prinsip Satu-China, dan posisi seimbang masing-masing pihak, serta  berjanji untuk selalu menyuntikkan stabilitas dalam dunia yang saat ini bergejolak.

Xi tiba di Samarkand, Uzbekistan, pada Rabu malam (14/9), setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke Kazakhstan. Itu adalah perjalanan  luar negeri pertamanya sejak pandemi Covid-19.

Pertemuan keduanya menjadi sorotan para pemimpin yang hadir. China adalah sekutu dekat Rusia yang hingga saat ini menolak untuk memberikan sanksi terhadap Moskow atas invasi Rusia di Ukraina.  

Dalam pertemuan itu, Xi mengatakan bahwa China akan mendukung kepentingan inti Rusia dan persahabatan mereka tidak memiliki batas, meski sempat sedikit terganggu oleh kenekatan Rusia yang meluncurkan invasinya ke Ukraina.

Ketika Putin menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Beijing, Februari 2022 lalu, Xi sempat mengingatkan Rusia agar menahan diri,  tetapi nyatanya, invasi bergerak hanya beberapa hari setelah Olimpiade.
Xi yang menyapa Putin sebagai "teman lama" saat menjabat tangannya pada pertemuan Kamis itu,  mengatakan sekali lagi bahwa China bersedia bekerja sama dengan Rusia untuk menyuntikkan stabilitas ke dunia yang bergejolak, dan memperdalam lagi hubungan bilateral mereka.

China juga telah melihat hubungannya dengan Barat, terutama AS, memburuk dalam beberapa bulan terakhir menyusul ketegangan atas Taiwan.

Putin mengatakan ia menghargai posisi netral China tentang Ukraina, dan bahwa Moskow tetap mendukung prinsip "Satu China" dan  menentang provokasi oleh AS di Selat Taiwan.

Para pengamat mengatakan, pertemuan tatap muka kedua pemimpin itu terjadi pada saat yang rapuh bagi kedua pemimpin, di mana China sedang diberondong AS dan sekutunya tentang persoalan Taiwan, dan Putin yang sedang dikecam dunia akibat perang Ukraina.

Namun, pertemuan itu juga sekaligus menguji seberapa tak terbatas persahabatan itu sebenarnya, menurut para pengamat.

SCO merupakan organisasi antarabangsa di kawasan Asia yang beranggotakan China, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Uzbekistan. Kecuali Uzbekistan, semua negara lainnya sebelumnya merupakan anggota Shanghai Five yang didirikan tahun 1996. SCO dideklarasikan pada tanggal 15 Juni 2001 setelah Uzbekistan bergabung.

Fokus awal SCO adalah memerangi ideologi ekstremis dan terorisme di Asia Tengah. Tujuannya sejak itu diperluas ke kerja sama ekonomi dan bekerja dengan badan-badan global termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tetapi banyak juga yang melihatnya sebagai tantangan bagi tatanan dan institusi yang dipimpin Barat.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA