Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Krisis Ekonomi Gentayangi Inggris, Biaya Hidup Melonjak di Tengah Inflasi

LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Rabu, 28 September 2022, 18:43 WIB
Krisis Ekonomi Gentayangi Inggris, Biaya Hidup Melonjak di Tengah Inflasi
Aksi protes biaya hidup yang tinggi di Inggris pada April 2022/Net
Inggris tengah menghadapi krisis ekonomi yang membuat warganya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah inflasi, dengan harga bahan pangan dan energi yang melambung tinggi.

Meski pertumbuhan ekonomi Inggris mulai pulih pada akhir tahun 2021 setelah pandemi, namun Bank Inggris mencatat kenaikan inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2022 hingga mencapai 9,1 persen. Angka tersebut juga diperkirakan tidak akan turun di bawah 2 persen hingga tahun 2024.

Di sisi lain, pendapatan yang diperoleh oleh warga tidak mengikuti kenaikan harga yang begitu cepat ini. Jika disesuaikan dengan inflasi, maka gaji reguler Inggris yang diberikan pada bulan April 2022 telah turun sebesar 2,2 persen.

Berdasarkan laporan pada Juli 2022, sebanyak 91 persen rumah tangga Inggris melaporkan bahwa biaya hidup mereka meningkat dari bulan lalu. Disebutkan bahwa kenaikan itu mencapai 62 persen dibandingkan biaya hidup November tahun lalu.  

Survei menujukkan, 67 persen orang dewasa Inggris berpikir bahwa Brexit membuat biaya hidup lebih tinggi, sementera lima persen percaya sebaliknya.

Bersamaan dengan itu, pemerintah Inggris berupaya menangani krisis dengan mengumumkan serangkaian program bantuan kepada masyarakat.

Dimuat Statistica pada Selasa (27/9), setiap rumah tangga Inggris memperoleh tanggungan listrik dari pemerintah sebesar Rp 6,5 juta selama musim gugur. Sementara itu, delapan juta rumah tangga berpenghasilan rendah juga menerima bantuan biaya hidup sebesar Rp 10 juta.

Namun, banyak yang merasa bahwa reaksi pemerintah terhadap krisis tersebut tidak tepat. Hampir separuh orang dewasa Inggris mengatakan mereka sangat tidak puas dengan tanggapan pemerintah.  

Dengan biaya hidup yang tinggi, warga Inggris harus terus menghemat uang dengan mengurangi makan di luar, belanja barang atau pakaian, hingga mematikan lampu serta perangkat elektronik lainnya.

Tingkat inflasi yang tinggi semakin diperparah dengan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan berkurangnya pasokan makanan dan energi, dua sektor pemicu terbesar dari inflasi yang tinggi.  

Khususnya pada kenaikan harga energi yang begitu berdampak pada seluruh sektor ekonomi dan rumah tangga Inggris, terutama setelah kenaikan batas harga energi perunit pada April 2022.

Mengutip CNBC, otoritas energi Inggris Ofgem berencana untuk menaikan tarif batas atas listrik rumah tangga pada Oktober mendatang hingga 3.549 pound atau Rp 60,7 juta setahun. Padahal, sebelumnya tarif batas atas hanya menyentuh angka 1.971 pound atau Rp 33,7 juta.

Jika kenaikan batas harga terus berlanjut hingga bulan Oktober, maka rumah tangga Inggris akan merasakan lebih banyak tekanan menuju musim dingin.

ARTIKEL LAINNYA