Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Kota-kota di Prancis dan Mantan Pemain MU Boikot Piala Dunia Qatar, Kaitkan dengan Pelanggaran HAM

LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 06 Oktober 2022, 09:32 WIB
Kota-kota di Prancis dan Mantan Pemain MU Boikot Piala Dunia Qatar, Kaitkan dengan Pelanggaran HAM
Ilustrasi/Net
RMOL.  Penggemar sepak bola akan memfokuskan perhatiannya pada ajang Piala Dunia yang tahun ini berlangsung di Qatar. Begitu juga dengan penggemar bola di Prancis. Namun, beberapa kota seperti Paris, telah menetapkan tidak ada  'Nobar' di tempat umum.

Otoritas lokal di Marseille, Lille, Bordeaux, Reims, Nancy, Rodez dan Paris, mengumumkan bahwa mereka tidak akan memasang layar televisi raksasa seperti di masa lalu untuk menyiarkan pertandingan dan tidak mengadakan "zona penggemar" alias Nonton Bareng (Nobar).

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk protes bahwa ajang piala dunia banyak bersinggungan dengan pelanggaran hak asasi manusia, khususnya untuk Qatar, tuan rumah tahun ini, yang diduga melakukan kerja paksa yang menyebabkan kematian pekerja migran di lokasi Piala Dunia.

Wali Kota Marseille yang sekaligus adalah kepala koalisi sayap kiri dan lingkungan, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ajang Piala Dunia Qatar telah menjadi bencana manusia.

"Kompetisi ini secara bertahap berubah menjadi bencana manusia dan lingkungan, tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kami sampaikan melalui olahraga dan terutama sepak bola," katanya.

Di Lille, dewan kota dengan suara bulat memilih untuk tidak menyiarkan pertandingan Piala Dunia.  Wali Kota Lille, Martine Aubry, mengatakan, kompetisi di Qatar adalah "omong kosong dalam hal hak asasi manusia, lingkungan dan olahraga".

Wali Kota Strasbourg Jeanne Barseghian juga memutuskan untuk tidak menayangkan Piala Dunia.

“Tidak mungkin bagi kita untuk tidak mendengarkan banyak peringatan dari LSM yang mengecam pelecehan dan eksploitasi pekerja imigran. Ribuan pekerja asing tewas di lokasi pembangunan, itu sangat mengenaskan," katanya.

Wali Kota Bordeaux Pierre Hurmic mengatakan, penayangan Piala Dunia dan penyelenggaraan Nobar di beberapa titik di pusat kota, hanya akan menjadikan kota itu sebagai "kaki tangan acara olahraga tersebut yang mewakili semua penyimpangan kemanusiaan, ekologi dan olahraga".

Apa yang disuarakan pejabat kota itu mendapat dukungan dari Eric Cantona, mantan pemain internasional Prancis dan Manchester United.

Dalam sebuah pernyataan ia mengatakan tidak akan menonton satu pun pertandingan dalam Piala Dunia tahun ini.

"Ini akan merugikan saya karena sejak saya masih kecil ini adalah acara yang saya sukai, yang saya nantikan dan saya tonton dengan penuh semangat. Tapi mari kita jujur ​​pada diri kita sendiri. Piala Dunia ini tidak masuk akal. Satu-satunya makna dari acara ini, seperti yang kita semua tahu, adalah uang,” katanya.

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) menanggapi kritikan atas kerja paksa dan kematian pekerja migran di lokasi Piala Dunia.

Menurutnya, sangat disayangkan adanya kampanye stigmatisasi terhadap Qatar dan Piala Dunia. Menurutnya, terlepas dari dugaan-dugaan, Qatar telah banyak membela hak asasi manusia. Menonton dan meramaikan ajang Piala Dunia tidak berarti menutup mata dan mendukung penyalahgunaan yang dilakukan Qatar.

Federasi itu kemudian menekankan bahwa mereka telah menerapkan berbagai langkah verifikasi mengenai penghormatan hak-hak sosial dan penerapan kondisi kerja yang terhormat di base camp tim Prancis di Qatar.

FFF yakin Piala Dunia telah membawa perubahan baik dan kemajuan bagi Qatar.

“Bahkan jika kenyataan di lapangan tidak sempurna, kemajuan ini tidak dapat disangkal,"  katanya.

Seruan boikot tidak benar-benar bagus, menurut Laurent Bodin, seorang penulis opini untuk surat kabar L'Alsace. Menurutnya, mematikan layar agar tidak ikut menyaksikan Pialada Dunia, adalah sesuatu yang kurang tepat karena di sisi lain, itu berarti masyarakat tidak bisa menikmati berita tentang Paris Saint-Germain, sebuah acara yang dibiayai oleh Qatar.  Ia juga mengingatkan bahwa ada banyak kegiatan lain yang juga dibiayai oleh Qatar.

The Guardian pernah melaporkan bahwa sejak Qatar mendapatkan tawaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, lebih dari 6.500 staf migran telah meninggal di negara itu.

Laporan Guardian tidak secara pasti menghubungkan semua 6.500 kematian dengan proyek infrastruktur Piala Dunia, meskipun seorang ahli mengatakan bahwa kemungkinan banyak pekerja yang tewas pada proyek itu.  

Pejabat Piala Dunia Qatar mengklaim bahwa jumlah korban tewas terkait pekerjaan di stadion adalah tiga, sementara yang 35 kematian lainnya tidak terkait pekerjaan stadion.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA